about me :
Hi, just call me Echy.
Mother of two .
Please, enjoy the 'books' and leave your footprints..
My Favorite books :
The Count of Monte Cristo, Memoir of Geisha, The alchemist, Tuesday with Morrie, Life of Pi, To Kill a Mockingbird, Les Misserables, The Kite Runner, Ronggeng Dukuh Paruk, Biola Tak Berdawai.
more about me : Echy at Multiply Echy at Goodreads
"So many books, so little time"." — Frank Zappa
"Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian."(Pramoedya Ananta Toer) "
“Siapa pun yang membaca banyak buku, punya mata di berbagai tempat yang unik." — Jostein Garder
mY fRiEnD's bOoK'S:
* P E R C A
* J O D Y
* F E R I N A
* A L L Y
* N AT N A T
*NAJLAZEA
* K O B O
* Rahib TANZIL
|
|
|
 |
|
Friday, August 07, 2009
Penulis: Deborah Rodriguez Penerjemah: Gunardi dan Aan Penyunting: Desy Penerbit: PT. Bentang Pustaka, Maret 2009, 430 Halaman
Buku ini kubeli tanpa membaca synopsis-nya terlebih dahulu, biasanya, aku selalu membaca synopsis buku yang akan kubeli, bahkan terkadang baca dulu review-nya di internet. Namun kali ini judul dan covernya, membuatku berpikir pastilah berhubungan dengan kerjaan, maka buku ini pun lolos masuk kantong belanjaan.
Tidak jauh meleset dari dugaan, Kabul Beauty School adalah sebuah memoir seorang peñata kecantikan bernama Deborah (Debbie) Rodriguez, seorang wanita Amerika yang setelah mengalami kegagalan dalam perkawinannya memutuskan untuk bergabung dalam sebuah misi kemanusiaan di Afganistan.
Kunjungan perdana Debbie ke Afganistan membuat matanya terbuka lebar melihat carut-marutnya negeri itu akibat perang, alih-alih membantu teman-temannya menangani korban perang, Debbie malah ditugaskan untuk mengajarkan ilmu kecantikan yang Ia miliki pada wanita Afganistan. Singkat cerita Debbie kembali ke Amerika dan mulai mencari dukungan dana dan berbagai kebutuhan kecantikan yang akan ia perlukan untuk membuka sekolah kecantikan di Kabul.
Ini buku kesekian yang bercerita tentang Afganistan, kembali bercerita tentang malangnya kehidupan wanita disana. Wanita benar-benar diremehkan, sama sekali tidak memiliki hak apa-apa, KDRT sangat lumrah terjadi , wanita hanya menunggu untuk dinikahkan berdasarkan pilihan ayahnya, lalu punya anak dan tunduk pada suami, tunduk dan takut pada suami dalam arti yang sebenarnya.
Hal itulah yang membuat Debbie bertekad untuk mengajak para wanita untuk belajar mandiri , mempunyai keahlian agar mereka lebih dihargai para suami, sehingga mereka tidak diperlakukan semena-mena dan tidak dipandang sebelah mata. Debbie membuktikan bahwa kaum perempuan juga bisa menghasilkan uang, bahkan jauh lebih besar dari penghasilan suami mereka.
Tentu saja banyak hal yang dialami Debbie untuk mewujudkan keinginannya itu. Dalam masa pendudukan Taliban, semua peralatan kecantikan dihancurkan, bahkan sepotong cermin sekalipun. Lalu tidak semua suami mengizinkan istrinya keluar rumah untuk mengikuti kursus, tidak sedikit yang mengalami penyiksaan akibat terlambat pulang dari jam yang diizinkan suami mereka.
Memoir ini ditulis dengan ringan, penuh humor, juga terkadang memilukan. Banyak bercerita tentang berbagai teknik tentang make-up, hair-do, bahkan adat istiadat dan tata rias pengantin Afganistan, yang menurutnya lebih mirip ratu waria, alih-alih membuat calon pengantin menjadi cantik dan elegan:D
Yang menjadi ganjalan adalah menurutku Debbie terlalu bertele-tele dalam penulisannya, bahkan agak sedikit ironis jika menyinggung kehidupan pribadinya , ia gemar pesta, minum dan perokok. Debbie berniat mulia ingin menolong wanita-wanita malang di Kabul, namun Ia sendiri tidak belajar dari pengalaman akan kegagalannya berumah tangga, Ia terburu-buru menikah lagi dengan seorang lelaki Taliban karena dijodohkan oleh teman-temannya di Kabul, Suami keduanya lelaki yang telah memiliki anak dan istri di negara lain, sementara i itu ia sendiri meninggalkan anak-anaknya bersama ibunya di Amerika.
Deborah Rodriguez telah menjadi penata rambut sejak tahun 1979. Sempat menjadi pegawai pemeriksa di kota kelahirannya, Holland, Michigan. Saat ini Ia memimpin sekolah Kecantikan Kabul, akademi kecantikan modern pertama di Kabul. Kisah ini diangkat kelayar lebar oleh Columbia Pictures dan akan segera beredar.
Posted at 10:40 am by echyart
Permalink
Sunday, July 12, 2009
The Book Thief by Markus Zusak First Knopf trade paperback edition September 2007 550.p
Kisah ini dituturkan oleh “malaikat pencabut nyawa” (titik) Berlatar belakang Perang Dunia pada awal tahun 1939 di German (titik) Suatu masa dimana Nazi sedang berkuasa(titik)
Stoppppppp…!!!! Ada perang? Hitler? Jew? Lalu dinarasikan oleh orang yang sudah mati? Sepertinya terlalu berat untuk buku dengan label young adult..(woot)
Upppsss…sabarrr…jangan tertipu.. ini adalah kisah tentang perjuangan hidup seorang anak berumur 9 tahun bernama Liesel Meminger, yatim, buta huruf, tinggal dengan orang tua angkat, belajar membaca, hingga jatuh cinta pada kata-kata, rela mencuri buku untuk menghapus dahaga membacanya.
“You hungry”? Rudy asked. Liesel replied. “Starving” for a book (p.287) It’s a shame you can’t eat books (p.291)
The Book Thief bercerita tentang keberanian, persahabatan, cinta, kasih sayang, kesedihan dan kematian. Buku ini akan menjadi salah satu buku terbaik yang kubaca tahun ini…5 bintang dariku. trust me…;)
Baiklah..
Liesel bersama ibu dan adiknya sedang dalam perjalanan menuju rumah calon orang tua angkatnya. Dalam perjalanan itu, adik lelakinya menghembuskan nafas terahirnya, adiknya meninggal dunia dalam keadaan lapar dan kedinginan, terbujur kaku disebuah gerbong kereta api yang sedang meluncur.
Setelah pemakaman adiknya yang berlangsung ditengah derasnya salju, Liesel menemukan sebuah buku berjudul “The Grave diggers Handbook” Ia memungut buku tersebut dan melanjutkan perjalanan bersama ibunya.
Hans Hubermanns dan Rossa Hubermanns tinggal Himmel Street di Molching, mereka mengangkat Liesel menjadi anak angkat, Hans seorang tukang cat rumah yang bisa memainkan accordion, sedangkan Rossa mencuci pakaian bagi orang-orang kalangan atas.
Walau hidup Liesel jauh lebih nyaman dibanding dengan sebelumnya, namun kenangan akan ibunya, ayah kandung yang tak pernah ia ketahui, hingga kenangan akan kematian adiknya selalu menghantui tidur malamnya, Ia sering terjaga sambil berteriak hingga ayahnya terbangun dan menemaninya, disinilah awal ia menunjukkan buku pertamanya, lalu Hans mengajarinya membaca.
Liesel mulai menjalani hidup “normal” . Ia membantu sang ibu disiang hari, bermain dengan Rudy sahabatnya, lalu belajar membaca dengan ayahnya pada malam hari.
Sampai pada suatu hari ketika ayahnya kedatangan seorang tamu bernama Max, seorang Jew, putra dari sahabatnya yang dulu mengajarkan Hans bermain accordion mereka sama-sama tergabung dalam satu pasukan saat Perang Dunia I. Ia pernah berjanji akan membatu sahabatnya itu jika Ia membutuhkan sesuatu, sampai akhirnya Max muncul di rumahnya meminta perlindungan. Hans adalah seorang German yang tidak membenci Jew, walau saat itu ia menyadari resiko besar yang akan ia tanggung.
Kedatangan Max, melengkapi konflik dari keseluruhan cerita ini, Zusak dengan keahliannya merajut kata, membangun karaktek setiap tokoh, Hans yang sabar dan baik hati, Rossa yang sompral namun berhati lembut, Rudy yang nakal dan pemberani, Max yang lemah dan tak berdaya namun penuh kasih terhadap Liesel, Narator gentayangan yang suka membocorkan akhir cerita dan tentu saja…Liesel yang sangat hidup: bermain bola bersama Rudy, mencuri buku di rumah istri sang Mayor, menyampaikan laporan cuaca pada max, menghibur para pengungsi di tempat perlindungan saat bom berjatuhan.
Ada lagi kisah persahabatan yang manis antara Rudy dan Liesel, perjuangan Hans, Rossa dan Liesel melindungi Max, kemauan Liesel yang besar untuk mendapatkan buku sampai derita para tetangga dalam melawan rasa takut mereka, ditambah kekhawatiran akan ancaman diambilnya anak lelaki mereka oleh tentara Hitler, dan tentu saja, derita seorang Max….
Bagiku, buku bagus adalah buku yang bisa “menghantuiku”, buku yang tokohnya membuatku menangis dan tertawa, buku yang membuatku tak mau berhenti membalik halaman berikutnya, buku yang kalimat-kalimatnya membuatku berpikir dan menikmati setiap kata-katanya yang indah.. buku yang isinya sampai terbawa ke dalam mimpi. (it’s kind of weird..in my dream,.. Hans ate Liesel ..*doh*)
Terahir…banyak kalimat narator yang menurutku sangat menyentuh, disela-sela kisahnya, Ia seolah ingin menumpahkan kekesalannya akan perang yang membuat pekerjaannya tiada habis-habisnya:
“I was still getting over Stalin in Rusia…” Then came Hitler... They say that war is death’s best friend, but I must offer you a different point of you on that one. To me, war is like the new boss who expects the impossible…..”get it done, get it done.” So you work harder… The boss, however, does not thank you. He ask for more…(p.309) Even death has a heart…..(p.242)
Buku ini merupakan awal perkenalanku yang sangat berkesan dengan seorang Markus Zusak. The Book Thief menjadi bestseller versi New York Times dan USA Today, meraih banyak penghargaan yang salah satu diantaranya “Winner of the Book Sense Book of the Year Award for Children’s Litetartur” Beberapa karya Zusak lainnya adalah Getting the Girl, Fighting Ruben Wolfe, dan I’m the Messenger yang meraih a Michael L. Printz Honor Book Award. Markus Zusak kini tinggal di Sydney Australia bersama istri dan putrinya.
-echy- yang ternyata punya beberapa draft review *menunggu untuk diedit*
Posted at 12:45 pm by echyart
Permalink
Thursday, May 28, 2009

Penerjemah: Threes Susilastuti (alm.) J.E Retno Dwiastuti Penerbit: Gramedia, September 2005 Tebal: 432 hal.
Buku ini kudapatkan di Palasari dalam kondisi sangat mulus bersama 2 buku Darren Shan, tanpa sempat membaca synopsis-nya ketiga buku itu masuk dalam kantong belanja. Setelah sempat tergeletak begitu saja, akhirnya 3 hari yang lalu dipilih secara acak saat akan tidur. Pada awalnya aku sempat berpikir..arrggg..another affair story….tapi setelah membaca beberapa lembar aku berubah pikiran, this is more than just an affair story.
Jake dan Mattie menikah karena Mattie telah terlanjur hamil. Pada dasarnya Jake tidak pernah mencintai Mattie ,pada awalnya mereka memang saling tertarik, hingga terjadi kesalahan itu dan… that's it…mereka terjebak dalam sebuah perkawinan selama 16 tahun. Jake sibuk dengan urusannya sebagai pengacara terkenal. Mattie sibuk membesarkan putri semata wayang mereka, Kim, sambil bekerja sebagai agen seni. Mattie telah lama mengetahui suaminya berselingkuh dengan wanita lain, begitu pula dengan Kim, ia pernah melihat ayahnya bermesraan dengan wanita yang bukan ibunya.
Awal cerita menggambarkan pergolakan batin Mattie yang membayangkan dirinya membunuh suaminya karena perselingkuhan yang Jake lakukan berulang kali di belakangnya. Ia pikir cukup sudah, waktunya untuk mengakhiri perkawinannya. Ia lelah dan muak dengan semuanya. Ia akan melepaskan Jake.
Namun saat pulang dari sebuah galerri seni, Mattie mengalami kecelakaan mobil. Ia tidak dapat mengontrol rem, ia sering merasa kesemutan dan tidak bias mengontrol anggota tubuhnya. Tak lama kemudian Mattie divonis menderita penyakit ALS (Amyotrophic Lateral Sclerosis) atau yang lebih sering dikenal dengan Lou Gehrig—adanya kerusakan pada neuron-neuron motorik di sumsum tulang belakang dan batang otak yang mengakibatkan matinya sel-sel saraf. Mattie menyadari ia sedang sekarat di usianya yang 36 tahun, dan suaminya yang ia cintai akan pergi meninggalkannya bersama wanita lain. Lengkaplah sudah…
Selain perselingkuhan Jake dan penyakit yang dideritanya, Mattie juga harus menghadapi putrinya Kim yang sedang mengalamai masa-masa sulit kehidupan remaja. Kim mengungkapkan kemarahannya dengan cara "mengajak" teman lelakinya ke rumah saat kedua orang tuanya tidak ada, menghisap marijuana, dan mengadakan pesta hingga menghancurkan perabotan rumah orang tuanya.
Jake yang telah siap meninggalkan Mattie dan tinggal di apartemen kekasihnya mengurungkan niat tersebut dan kembali ke rumah begitu mengetahui keadaan Mattie. Bukan karena cinta, tapi ia kembali karena kasihan, karena Jake selalu melakukan hal yang "lurus". Namun Mattie menuntut lebih…
"Yang kuinginkan adalah hasratmu, yang kuinginkan adalah kesetiaanmu, yang kuinginkan adalah cintamu, dan bila aku tidak bisa mendapatkan semua itu, bila kau tidak dapat sedikitnya berpura-pura mencintaiku untuk setahun atau dua tahun atau berapa pun sisa usiaku, aku tidak mau kau berada disini". (hal.253)
Drama dalam keluarga ini dimulai, Jake kembali kerumah dan benar-benar melakukan perannya sebagai suami dan ayah yang baik, pulang untuk makan malam, menemani istrinya berbelanja, mengantar putrinya ke sekolah, dan berhenti menemui selingkuhannya.
Jake mulai terbuka pada Mattie begitu pula sebaliknya, mereka melakukan berbagai hal yang selama 16 tahun tidak pernah mereka lakukan, mereka "bicara", Jake sedikit demi sedikit mulai menceritakan masa kecilnya pada Mattie. Dibalik ketenangannya, Jake menyimpan seribu luka masa kecil yang masih menghantui mimpi-mimpi malamnya. Begitu pula dengan Mattie, trauma masa kecilnya tentang ibu yang tidak menyayanginya terus mengusik. Mattie semakin menyadari betapi ia sangat mencinyai suami yang tidak pernah benar-benar ia miliki, sementara itu penyakit Mattie semakin parah, ia bahkan tidak bisa melakukan kebutuhannya yang paling mendasar, ia semakin tergantung pada orang lain dan Jake tentu saja. Jake sendiri bergelut dengan pekerjaan yang terus menerornya, disisi lain ia harus selalu ada untuk istrinya yang sekarat, tidak hanya itu, kembali hadirnya kekasihnya disaat-saat Jake mulai merasakan bahwa ia mencintai istrinya, benar-benar membuatnya bingung.
Ini bukan kisah yang happy ending, sangat mengharukan dan menyentuh, sebuah kisah drama keluarga, perjuangan seorang wanita meraih cinta seorang suami….sungguh ironis. Aku sempat membayangkan bagaimana rasanya menikah selama 16 tahun bersama seorang lelaki yang tidak pernah sekalipun mengungkapkan kata-kata I love You, hidup serumah dengan orang yang tidak mencintaimu, hidup dengan lelaki yang menemanimu karena sebuah alasan, terjebak oleh sebuah kesalahan.
Joy Fielding menggambarkan pikiran masing-masing tokoh dengan sangat menyentuh. Pembaca diajak untuk merasakan pergulatan batin Mattie yang kecewa dengan perkawinannya, Menelusuri jejak masa lalu Jake yang membuatnya selalu hidup dalam terror masa kecil, serta memahami seorang Kim yang bingung menghadapi perubahan kehidupan masa remaja dan orang tua yang tidak harmonis.
Banyak pelajaran berharga di buku ini, bagaimana perlakuan dimasa kecil sangat mempengaruhi perilaku seseorang saat dewasa, dan kekuatan sebuah komunikasi yang secara ajaib mempermudah semua masalah. Yang paling penting bagaimana kita bisa menjadi seorang ibu yang "sempurna" bagi anak-anak. yupp..pokoknya emak-emak banget dehh..
Keren…..4 bintang dariku. Awal perkenalan yang manis dengan seorang Joy Fielding..Lebih banyak tentang Joy Fielding bisa dibaca disini:<a href="http://www.joyfielding.com/http://www.joyfielding.com/">http://www.joyfielding.com/</a>
Posted at 11:13 am by echyart
Permalink
Tuesday, February 10, 2009
Anne of Green Gables by Lucy.M montgomery
Penerjemah: Maria M. Lubis Penerbit: Qanita Cetakan: I, 2008 Tebal: 516 hlm Sudah lama sekali mendengar tentang buku ini, dan berhasil memilikinya sekitar 3 bulan yang lalu, aku mendapatkan dua edisinya: Anne of Green Gables dan Anne of Avonlea dari Nadya yang sedang mengobral koleksi buku2nya. Kedua buku ini terbitan Bloomsbury Books 1994. Sayang karena berbagai kesibukan dan begitu banyaknya buku lain menggoda, aku baru sempat membaca setengan dari buku yang penjualannya melampaui Harry Potter, To Kill a Mockingbird dan Gone ith the Wind ini.
Sampai Desember lalu saat aku melihat terjemahan buku ini disebuah toko buku, sempat terlintas, apakah aku harus memiliki edisi Indonesianya? Tak lama kemudian pertanyaanku pun terjawab, Aku mendapatkan kado ulang tahun berupa buku ini langsung dari penerjemahnya…yup..tante M. Itu lho…Maria M. Lubis. Ooh senangnya… (peyuk-peyuk Umayyy..yang lagi ndut )
Sebagai pembuka aku akan mengatakan buku ini masuk dalam kategori buku klasik yang memesona. Sebuah buku klasik yang layak koleksi dan tidak akan pernah menyesal untuk dibaca berulang-ulang. Tak akan lekang oleh waktu dan dengan bangga akan kuwariskan pada anak cucu.
Green Gables adalah rumah milik kakak beradik Cuthbert, Marilla dan Matthew . Mereka berprofesi sebagai petani yang memiliki lahan pertanian yang dikelola sendiri. Seiring dengan pertambahan usia mereka yang semakin tua mereka memutuskan untuk mengadopsi seorang anak lelaki untuk membantu dan menemani mereka.
Matthew kemudian pergi ke kota untuk menjemput anak lelaki yang akan mereka adopsi. Namun sebuah kesalahan telah terjadi. Setibanya di stasiun, alih-alih menemukan anak lelaki, Matthew malah menemukan seorang anak perempuan berumur 11 tahun bernama Anne, ia adalah “anak lelaki” yang dijanjikan oleh panti asuhan. Matthew yang pemalu dan pendiam tidak tega untuk mengungkapkan bahwa ia tidak mengharapkan anak perempuan. Ia pun membawa Anne pulang dan berpikir untuk menyampaikan kekeliruan ini nanti di rumah bersama Marilla.
Marilla tidak kalah terkejutnya saat melihat Anne, ia tak habis pikir, kenapa seorang gadis berbaju kumal dengan rambut merah yang datang? Bukannya seorang anak lelaki yang bisa membantu Matthew di ladang.
Anne sendiri sangat bahagia dengan rencana adopsi yang akan dilakukan Matthew dan Marila, Ia sama sekali tidak membayangkan bahwa kehadirannya samasekali tidak diinginkan. Perilaku Anne yang riang, banyak bicara, suka berhayal dan berjiwa romantis membuat Matthew jatuh hati. Ia bersikeras agar Anne tetap tinggal di Green Gables, dan ia akan mencari anak lelaki yang lain. Marilla yang sempat akan memulangkan Anne pun mengalah dan berubah pikiran. Sebuah keputusan yang nantinya akan sangat Ia syukuri.
Sebagai yatim piatu yang pernah tinggal bersama beberapa keluarga, menjadi pengasuh anak dan kemudian tinggal di panti asuhan, membuat Anne sangat senang memasuki lingkungan baru, diusianya yang baru 11 tahun, ia telah memiliki mimpi-mimpi dan kemampuan berimajinasi yang sangat besar. Ia selalu sadar mata akan dunia sekelilingnya, pemandangan yang indah, cuaca yang cerah, harum bunga, riak air danau, semua menjadi perhatiananya, tidak hanya itu, ia pun memberi nama setiap tempat yang ia sukai, Kanopi Kekasih, Danau Air Riak Berkilau, Ratu Salju dll. (dua jempol buat penerjemahnya)
Namun daya imajinasi yang tinggi dan rasa romantismenya yang menonjol membuat Anne menjadi terlihat terlalu dewasa untuk usianya. Hal ini terkadang mengganggu Marilla dan juga para tetangga di Avonlea. Tapi Anne berhasil meluluhkan hati warga Avonlea hingga jatuh hati padanya.
Lucy Montgomery sang pengarang berhasil menciptakan seorang tokoh yang sangat hidup, aku tak perlu membayangkan seorang anak gadis berumur 11 tahun yang suka mengoceh tak henti , aku merasa Anne benar-benar nyata dan “sedikit kesal” karena ocehannya yang membuatku ngakak dan geleng kepala. (perasaan ini juga dipengaruhi oleh seorang anak di rumahku yang baru saru saja ultah ke 12 tahun yang senang sekali mengoceh tanpa henti sampai akhirnya berhenti jika ku bilang……cukup…cukup…cukup untuk malam ini..) :-P
Anne berhasil merebut perhatian dua bersaudara Cuthbert, tapi bukan Anne namanya jika tidak membuat masalah, ia sempat ribut dengan tetangganya Mrs. Lynde, membuat mabuk sahabat baiknya Diana Barry, bertengkar dengan teman sekelasnya Gilbert Blythe, memasukkan minyak kayu putih ke dalam adonan kue, hampir tenggelam di sungai, jatuh dari genteng dan banyak lagi kelakuan Anne yang konyol dan memusingkan yang justru menghibur. Tapi tidak hanya itu, selain kekonyolan yang ia lakukan Anne adalah anak yang suka menolong dan selalu belajar dari kesalahan.
Anne of Green Gables terbit pertama kali pada tahun 1908 merupakan buku pertama yang kemudian disusul 7 buku lainnya. Semoga Qanita menerbitkan buku-buku Lucy M. Montgomery lainnya. Lucy lahir di Clifton (sekarang New London) pada 30 November 1874. Pengalaman hidupnyalah yang memberinya inspirasi menulis Anne of Green Gables.
Membaca buku-buku semacam ini membuat membaca menjadi kegiatan yang mewah dan benar-benar menyenangkan. 5 Bintang untuk Anne of Green gables, untuk kategori buku anak/remaja, buku ini aku sejajarkan dengan buku-buku Astrid Lindgren, dan berhak masuk dalam jajaran buku-buku favoritku yang lain, The Count of Monte Cristo, To Kill a Mocking Bird, Memoir of Geisha, Life of Pi, The Kite Runner, Tuesday with Morrie, Les Miserables. Omg..banyak sekali buku bagus di luar sana.. :-D
-echy- yang lagi baca The Book Thief
Posted at 09:54 pm by echyart
Permalink
Wednesday, January 28, 2009
Honeymoon With My Brother - Berpetualang Keliling Dunia Gara-Gara Putus Cinta
Penerjemah: Berliani M. Nugrahani Penyunting: Anton Kurnia Penerbit: PT Serambi Ilmu Semesta
Buku ini mengingatkanku pada impian masa kecil dulu. Bercita-cita bekerja pada sebuah kedutaan atau perusahaan asing. Tujuannya hanya satu, agar aku bisa ke luar negri dan mengunjungi negeri-negeri asing. Negara yang ingin kukunjungi selalu berubah tergantung buku apa yang sedang kubaca saat itu . Seiring perjalanan waktu, ternyata keinginan itu tidak pernah surut, dan setelah membaca buku ini, aku kembali memperbaharui niat itu, suatu hari nanti, aku akan melihat dunia.
“Jika tidak melakukannya sekarang, kita tidak akan pernah melakukannya. Salah satu dari kita akan menikah dan sibuk bekerja. Tanpa kau sadari, kau sudah berumur enam puluh tahun tanpa pernah pergi kemanapun.” (hal.94)
Kini aku hanya menjelajahi negeri-negeri asing melalui buku-buku yang kubaca, dan mendengar kisah-kisahnya dari si ayah—yang anehnya samasekali tidak pernah bermimpi bahwa profesi yang ditekuninya akan membawanya ke berbagai belahan dunia.
Sesaat setelah menamatkan buku ini aku mengatakan pada si ayah bahwa kami harus rajin menabung dan pensiun di usia muda agar bisa keliling dunia, suamiku membelalakkan matanya dan berkata “ Ayah ingin segera berhenti keliling dunia agar bisa diam di rumah berkumpul bersama kalian” ohhh..tidakkkkkkkkkk…..ia menghancurkan hatiku, hiahahaha…
Ahh…baiklah sebelum aku meracau lebih jauh mari kita dengarkan kisah ini..radio kaleee..
Franz Wisner dicampakkan kekasihnya Annie menjelang hari pernikahannya, alih-alih meratapi nasib, Franz tetap menjalankan semua paket bulan madu yang telah direncanakan. Bukan dengan perempuan lain melainkan dengan Kurt—adik lelakinya.
Bulan madu yang Franz dan Kurt alami menjadi pengalaman yang sangat luar biasa bagi mereka berdua, mereka jadi mulai saling mengenal, sebelumnya, Franz bahkan tidak tahu apa kopi kesukaan adiknya. Mereka yang selama ini terpisah mulai merasakan bagaimana membaiknya hubungan mereka sebagai saudara. Lalu tercetuslah ide untuk melanjutkan acara bulan madu tersebut.
Franz bekerja sebagai eksekutif humas dan sekretaris pers pemerintah, tak lama setelah “peristiwa Annie” ia pun “dicampakkan” oleh atasan tempat ia bekerja. Maka lengkaplah sudah, Franz mantap untuk berhenti bekerja dan menjalankan rencana “bulan madu” lanjutan bersama Kurt. Setelah Franz mengajukan pengunduran diri dan mendapatkan bonus yg berjumlah wow dari kantornya, dan Kurt pun telah berhasil menjual rumahnya sebagai bekal selama ia menjelajah dunia. Mereka berangkat dengan sedikit rasa heran dari keluarga dan dukungan penuh dari nenek mereka LaRue.
Eropa adalah benua pertama yang menjadi sasaran, mereka menuju Rusia, lalu ke Swedia—menikmati mobil baru “Saab” milik Kurt yang telah menanti—terus menuju Budapest, Rumania, Bulgaria, Turki dan berhasil masuk Suriah.
Dari Eropa mereka menuju Asia Tenggara. Dan tentu Bali adalah salah satu tujuan utama mereka, disini keduanya terheran-heran dengan kebiasaan penduduk setempat seperti adu ayam dan berbagai tradisi yang unik. Mereka terheran-heran menyaksikan seorang ibu berkebaya dengan sesajen lengkap di kepala berhasil “menyeret” seorang anak kecil tanpa menjatuhkan sesajennya. Sedikit kecewa dengan Bali yang ramai mereka lari ke Lombok, berkenalan dengan dunia backpacker dan saling berbagi pengalaman dengan teman-teman baru yang kebanyakan nyentrik. Lalu mengunjungi pulau Komodo, mereka mengalami perjalanan yang “sangat mengesankan” saat menuju pulau tempat binatang yang menurut Kurt adalah sisa-sisa zaman purbakala . Dari Indonesia Perjalananpun dilanjutkan ke Vietnam dan Thailand
Banyak hal menarik yang mereka alami disetiap negara yang mereka kunjungi, hal- hal yang menyenangkan sampai yang membuat mereka kesal, mulai dari perbedaan bahasa, adat istiadat setempat, serta kebiasaan sesama turis dari berbagai negara yang menurut mereka aneh. Salah satu hal yang menurutku kocak adalah saat mereka dicegat polisi dan berhasil lolos saat menunjukkan foto Presiden Bush.
Dari Asia Tenggara mereka menuju Amerika Utara dan Selatan: Caracas, Equador, Galapagos, Peru dan Brazil dan terahir Afrika: Botswana di Afrika Selatan, Zambia dan Malawi dll. Perjalanan panjang benar-benar telah merubah cara pandang Franz terhadap dunia. Tapi suatu hal yang paling penting dalam perjalannya ia berhasil melupakan dan mengiklaskan Annie.
Selama dalam perjalanan Franz selalu mengirim kartu pos untuk neneknya LaRue, ia bahkan menulis kisah perjalanannya ke beberapa media yang dilengkapi dengan foto-foto hasil jepretan kurt. Mereka juga mengunjungi beberapa kenalan dan sahabat di sepanjang perjalanan, berkenalan dengan teman-teman baru, beradaptasi dengan karakteristik penduduk setempat dan berusaha berkompromi dengan keadaan. Mereka berhasil melewati masa-masa sulit di Afrika dan sangat bersyukur atas apa yang telah miliki.
Dalam buku ini Franz memberi banyak tips, mulai dari bagaimana menghadapi pedagang asongan, supir taxi yang nakal, sampai anak-anak yang meminta jatah preman. dan membuang buku-buku panduan untuk para turist karena ternyata menipu dan tidak sesuai kenyataan di lapangan.
Adakalanya kedua pasangan kakak beradik ini larut dalam keindahan alam yang memesona, marah karena tidak semua berjalan sesuai rencana, menagis karena mereka bersyukur menjadi orang Amerika yang bersedia mengeluarkan ribuan dollar demi otot bisep yang menonjol, bukan akibat terpaan hidup seorang ibu di Afrika yang harus berjuang mengendong anak-anaknya yang kurus dan buncit. Franz dan Kurt belajar banyak dari orang miskin. melihat berbagai profesi dan kemiskinan yang jauh diluar bayangan mereka, terutama di negara-negara ketiga.
“Mereka akan tahu bahwa disebagian besar dunia, anak-anak tidak mengolok-olok teman-temannya gara-gara pakaian, dan orang dewasa tidak meributkan baju yang dikenakan rekan-rekannya.” (hal.474)
“Mereka akan tahu bahwa ibu mereka benar. Ada orang-orang kelaparan di Afrika. Jadi, makanlah sayuranmu” (h.477)
franz dan Kurt tahu bahwa perjalanan mereka akan menjadi pendidikan seumur hidup. Ada banyak tipe pejuang hidup yang mereka temui yang membuat mereka tersentuh. Bahwa komunitas miskin tidak seluruhnya mengenaskan, mereka memiliki energy, persahabatan dan nilai spiritualitas yang tinggi, yang jarang dijumpai di kota-kota di Barat.
Mereka memahami beginilah hidup, tidak semua sesuai harapan, kita tidak selalu mendapatkan apa yang kita inginkan, yang pasti selalu ada kisah besar dibalik sebuah peristiwa.
4 Bintang untuk Honeymoon With My Brother. Bagi pembaca dan pecinta travelling khususnya, pasti akan tergoda dengan alur ceritanya yang mengalir, banyak kejutan yang menanti disetiap babnya, kocak dan mengharukan, terjemahan yang ok—pasti sudah pada kenal dengan mbak Berliani sang penerjemahnya kan?—dan sejauh ini aku tidak menemukan salah ketik dan hal-hal yang mengganggu lainnya.
Baiklah sementara kalian membayangkan isi buku ini dan berkeliling dunia bersama Franz dan Kurt, aku akan merayu Mr.Chef agar merubah keputusannya dan segera mengajakku keliling dunia beneran..
Segera tayang..Anne of Green Gables
-Echy- Yang dengan bangga menamatkan buku pertama di th 2009
Posted at 10:48 am by echyart
Permalink
Sunday, January 11, 2009

Setelah sempat melihat-lihat buku yang kubaca tahun 2008, baik yang ada di rak buku maupun yang sempat kutulis review –nya di Multiply dan di Blogdrive, akhirnya aku berhasil melawan rasa malas untuk menulisnya. Berikut daftarnya, ditulis secara acak (seingatnya, tidak berurutan)
FIKSI 1. Man and Boy by Tony Parson 2. Out by Natsuo Kirino 3. Sams Letter to Jenifer by James Patterson 4. Veronika Memutuskan Mati by Paulo Coelho 5. For One More Day by Mitch Albon 6. In Cold Blood by Truman Capote 7. Chicken Soup for Mother Soul by Jack Canfield 8. The Husband by Dean Koontz 9. Si Gila Belanja Akhirnya Kawin Juga by Sophie Kinsella 10. Perantau (kumcer) by Gus tf Sakai 11. Catcher in the Rye by J.D Salinger 12. Saving Fish From Drowning by Amy Tan 13. The Golden Compass by Philip Pullman 14. Stardust by Neil Gaiman 15. Eleven Minutes by Paulo Coelho 16. Snow by Orhan Pamuk 17. Maximum Ride #1 by James Patterson 18. The Gas Room by Stephen Spignesi 19. Dragon Keeper by Caroline Wilkinson 20. Garden of the Purple Dragon by Caroline Wilkinson 21. Rara Mendut by Y.B Mangunwijaya 22. Harry and the Wrinklies by Alan Temperley 23. The Lovely Bones by Alice Sebold 24. Marcy's Problem at School by Paula Danziger 25. The Wednesday Letters by Jason F. Wright 26. Insiden Anjing TMYBP by Mark Haddon 27. Spot of Bother by Mark Haddon 28. The Book of Lost Things by John Connolly 29. Keluarga Mullerbin by Astrid Lingdren 30. Karlsson si Manusia Atap by Astrid Lingdren 31. Pippi si Kaus Panjang by Astrid Lingdren 32. The Ways to Live Forever by Sally Nichols 33. Chicken Soup for The Woman Soul by Jack Canfield 34. Can't You keep the Secret? by Sophie Kinsella 35. Children of the Lamp by P.B Kerr 36. The Blue Djin of Babylon by P.B Kerr 37. The Alchemyst by Michael Scott 38. The Old Man and Sea by Ernest Hemingway 39. Sun Rising by Michael Chrichton 40. Night in Rodanthe by Nicholas Spark 41. A Walk to Remember by Nicholas Spark 42. Message in the Bottle by Nicholas Spark 43. The Notebook by Nicholas Spark 44. Chicken Soup for Couple soul by Jack Canfield 45. Hannibal By Thomas Harris 46. Red Dragon By Thomas Harris 47. The Silent of The Lamb By Thomas Harris 48. Jack si Pelompat by Phillip Pullman 49. Kafka of Shore by Haruki Murakami 50. Dengarlah Nyanyian Angin by Haruki Murakami 51. O Amuk Kapak by Sutardji Calzoum Bachri 52. 100 Puisi Indonesia Terbaik 2008 by Anugrah SPK 53. 20 Cerpen Indonesia Terbaik 2008 by Anugrah SPK 54. Cala Ibi by Nukila Amal 55. Namaku Grace aja by Charise Mericle Harper 56. Step on Crack by James Patterson 57. The Quickie by James Patterson & Michael L 58. Lolita by Vladimir Nabokov 59. Twilight by Stephenie Meyer 60. New Moon by Stephenie Meyer 61. Half of a Yellow Sun by Chimamanda Ngozi Adichie 62. Coraline by Neil Gaiman 63. Weedflower by Cynthia Kadohata 64. Embroideries by Marjane Satrapi 65. The Last Concubine by Lesley Downer 66. Chicken With Plumps by marjane Satrapi
NON FIKSI 1. Makan, Doa, Cinta by Elizabeth Gilbert 2. Blessing in Disguise by Dr.Khalid Umar al-Disuqi 3. Instant Make-up by Gusnaldi 4. La Tahzan by DR. Aidh al Qarni 5. The Secret by Rhonda Byrne 6. Psikologi Suami-istri by DR.Thariq An-Nu'aimi 7. The 7 Laws of Happiness by Arvan Pradiansyah 8. Three Cups of Tea by Greg Mortenson & David O.R 9. International Bridal Make-up by May-May 10. Beauty Encyclopedia by Enigma 11. Quantum Writing by Hernowo 12. Kiat Sukses Menyelenggarakan perkawinan Adat Sunda by ArtatiAgoes 13. Buku Pintar menyunting Naskah by Pamusuk Eneste 14. Alirkan Jati Dirimu by Natalie Goldberg 15. Andaikan Buku Sepotong Pizza by Hernowo 16. Meramu Kisah Dramatis by William Noble 17. Mencipta Sosok Fiktif by Orson Scott Card
BUKU MOGOK 1. Bilangan Fu by Ayu Utami 2. The Face of Another by Kobo Abe 3. A Wedding in December by Anita Shreve 4. Gerhana Kembar by Clara Ng
YANG LAGI DIBACA SISA 2008 1. Honeymoon with my Brother by Franz Wisner 2. Jonathan Strange & Mr Norrel by Susanna Clarke 3. Anne of green Gables by L.M Montgomery 4. Burung-Burung Manyar by Y.B Mangunwijaya
Selain buku-buku diatas ada beberapa buku dan komik yang aku sewa atau dipinjamin teman , lalu majalah-majalah yang berhubungan dengan Kecantikan dan Wedding. Juga ada beberapa buku anak yang aku baca ulang seperti buku-buku Astrid Lindgren, Jacqueline Wilson dan Lois Lowry (Anastasya krupuk…hihi..) Jadi kalau ditotal, lebih kurang aku baca 100-an buku dan me-review 40 buku tahun ini.
TUMPUKAN DOSA Jumlahnya banyakkk...., lebih dari 40-an, dosa terbesarku** 7 buah buku Harry Potter dan Trilogi TLOTR....*hareee geneeee, belum baca ?
RESOLUSI BUKU 2009 • Aku akan mencicil dosa terbesarku**, satu buku/bulan
• Hanya akan membaca satu buku pada satu kesempatan (baca dulu satu sampai tamat, baru pindah ke buku lain>
• Menghabiskan tumpukan dosa,
• Mengurangi jatah untuk beli buku
BUKU-BUKU YANG BERKESAN
gak boleh protess…karena ini sangat personal dan seperti biasa…selera emak-emak, ini juga acak, bukan berdasarkan peringkat
1.Half of a Yellow Sun by Chimamanda Ngozi Adichie , perpaduan keren antara sejarah dan fiksi.
2. Out by Natsuo Kirino, buku ini membuat nafasku sesak sampai kebawa mimpi.
3. The Lovely Bones by Alice Sebold, aku larut dalam buku ini, kisah yg tragis namun membuatku merenungkan hubungan yg manis antara ayah dan anak gadisnya.
4. Embroideries by Marjane Satrapi, Nah, kalo buku ini benar-benar membuatku ngakak…kocak abizz
5. Three Cups of Tea by Greg M & David O.R, menurutku ini memoir yg keren, seorang Greg Mortenson berhasil melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi anak-anak Pakistan
6. Makan, Doa, Cinta by Elizabeth Gilbert, Masih memoir, kisah seorang wanita yang berani mengambil keputusan besar untuk mengubah hidupnya.
7. Harry and the Wrinkliesby Alan Temperley, Ini buku anak yang asyikkk…
Tahun ini aku banyak dapat "buntelan " (baca:buku gratis) selain karena beberapa kali memenangkan hadiah meresensi buku—seperti resensi buku Rara Mendut dan Twilight yang diadakan Gramedia—aku juga dapat banyak kiriman dari teman-teman "KUBUGIL and Friends"
Bagi yang mau ngirim BUNTELAN *tuing-tuing* belum terlambat kok, tanggal 25 Desember kemaren aku berulang tahun yang ke…..TIGA PULUH LIMA TAHUN… (itu menurut KTP, lho…aslinya sih..teteepppp 23 tahun) jadi jangan sungkan-sungkan ya…selain buku aku juga menerima cek, wessel dan kartu kredit..*GR.. abisss*
So..Selamat tahun Baru Temans… Semoga tahun ini menjadi tahun yang lebih baik bagi kita semua Yang jomblo segera menikah dan menghubung ibu dempul… Yang gajinya nggak naik-naik segera mendapatkan promosi dan naik gaji Yang lagi sakit semoga dikuatkan dan segera sembuh Yang belum punya bayi terus berusaha dan segera diberi momongan Yang punya banyak hutang cepat-cepat lunasin dan gunting tuh..kartu kredit !! Yang berbisnis semoga banyak orderan dan laris manizz… Wish You All the best, MY FRIENDS… Dan yang pasti TERUS MEMBACA…. Karena….hanya orang-orang KEREN yang MENCINTAI BUKU
Salam Hangat, -echy-
Posted at 03:18 pm by echyart
Permalink
Saturday, December 06, 2008

Penerjemah: Lanny Murtihardjana Penerbit: GPU, Oktober 2008 Tebal: 272 halaman
"SEPERTI INILAH RASANYA KESEPIAN: Seakan-akan semua orang menatapmu…" Begitulah kalimat pembuka kisah berlatar belakang peristiwa Pearl Harbor ini. Bercerita tentang kisah hidup seorang gadis keturunan Jepang berusia 12 tahun bernama Sumiko. Ia dibesarkan disebuah perkebunan bunga di California.
Suatu hari Sumiko pulang sekolah dengan gembira karena menerima undangan pesta teman sekelasnya. Bagi gadis lain seusianya, menerima undangan ulang tahun bukanlah hal yang luar biasa, tapi tidak bagi Sumiko, Ia yang terbiasa diejek dan dipandang penuh curiga karena menjadi satu-satunya gadis Jepang di kelasnya, menganggap hal ini peristiwa luar biasa. Ia mengabarkan berita tersebut pada seisi rumah.
Semenjak kematian orang tuanya, Sumiko dan adiknya Tak-Tak (6 th) tinggal bersama kakeknya "Jiichan", paman, bibi dan kedua sepupunya--Ichiro dan Bul. Mereka mengurus perkebunan bunga liar—kusabana. Untuk menghadiri undangan pesta tersebut Sumiko mempersiapkan segalanya, ia memikirkan gaun yang akan ia kenakan, kado yang akan dibawa, dan membayangkan suasana pesta yang akan dihadirinya, Ia pun diantar paman dan kakeknya. Sumiko tak menyangka luapan kegembiraannya akan berahir dengan kekecewaan. lalu kejadian di pesta membuat Sumiko merasa malu dan terhina, hingga menurutnya hidupnya takkan sama lagi. Ia merasa dirinya adalah Sumiko yang terhina (h.48)
Tak lama berselang tersebarlah kabar Jepang telah mengebom Hawaii, perang telah meletus, kehidupan "damai" mereka buyar sudah. Orang-orang Amerika mencurigai para Nikkei—semua keturunan Jepang, termasuk mereka yang lahir di Amerika Serikat seperti Sumiko. Mereka dipaksa menjual rumah serta semua hartanya, kemudian mereka ditampung di kamp tahanan sementara.
Dari kamp tahanan tersebut, mereka dipindahkan ke kamp tahanan lainnya di salah satu padang gurun terpanas di Amerika. Panasnya cuaca, lingkungan kamp yang membosankan membuat Sumiko merindukan kebun bunganya, perasaan jemu benar-benar membuatnya takut.
Selama dalam kamp konsentrasi, banyak konflik yang terjadi, sepupunya harus ikut wajib militer, bibinya ingin bekerja diluar kamp, Paman dan kakeknya menderita kedinginan karena ditahan kamp yang berbeda.Sumiko berjuang keras melawan rasa jenuhnya dengan "menciptakan" kebun bunganya di gurun yang tandus bersama Mr. Moto, Sementara terus Tak-Tak terus menghawatirkan apakah mereka akan mati ditembak. Sampai dengan Sumoko berteman dengan seorang Indian bernama Frank.
Cynthia Kadohata mengungkapkan dampak pengeboman Pearl Harbor bagi keluarga Sumoko (baca: warga Jepang di Amerika). Kisah yang indah tentang kekuatan saling mengisi dalam sebuah keluarga, aku suka bagaimana Ichiro dan Bull melindungi sepupunya Sumoko dan Tak-Tak, sehingga merasa mereka bukanlah yatim piatu dan memilki keluarga yang sebenarnya. Lalu tindakan Sumoko menyumbangkan uang 6 dollarnya untuk dikirim pada Jiichan dan pamannya. Sumoko juga menghibur Bull yang akan menjalani wajib militer dengan cara berjanji akan mengiriminya surat dan majalah, sangat menyentuh.
-echy- yang berusaha mencari karya Kadohata yang lain.
Posted at 10:32 am by echyart
Permalink
Tuesday, November 18, 2008

penulis:Chimamanda Ngozi Adichie Penerbit: Harper Perrenial, First edition 2007 Tebal: 433.p
Pada awalnya aku bertanya-tanya apa makna dari "Half of a Yellow Sun" yang menjadi judul dari buku super keren ini, pertanyaan itu akhirnya terjawab sudah, yang ternyata mengarah pada gambar setengah matahari berwarna kuning yang terdapat pada bendera Biafra.
Half of a Yellow Sun bercerita tentang kehidupan dua wanita kembar tidak identik yang terlahir dari orang tua pengusaha kaya di Lagos, Nigeria. Bersetting tahun 1960 saat Nigeria terbebas dari penjajahan kolonial Inggris.
Kedua saudara kembar ini bernama Olanna dan Kainene, lulusan universitas di London Inggris. Setelah menyelesaikan kulianya Olanna memilih meninggalkan segala kemewahan di Lagos untuk menjadi seorang instruktur di depatemen sosiologi di Nsukka, sementara Kainene lebih memilih untuk mengurus perusahaan keluarga. Ia melakukan negosiasi dan banyak hal lain atas nama perusahaan ayahnya.
Olanna tinggal bersama kekasihnya seorang professor bernama Odenigbo. Saudara kembarnya—Kainene—biasa memanggilnya kekasihnya dengan sebutan "revolutionary lovers." Hubungan ini tidak disetujui oleh ibu sang professor. Ibunya tidak menyukai wanita yang terlalu pintar dan menganggap aneh ibu Olanna yang tidak mau menyusui kedua putrinya karena takut akan merusak payudaranya "What women brings another person to breasfeed her own children when she herself is alive and well ?" (p.98) Ibu Odenigbo berusaha mengacaukan hubungan anaknya dengan cara membawa gadis desa untuk menggoda putranya. Odenigbo masuk perangkap ibunya.
Sementara itu Kainene mempunyai kekasih berkebangsaan Inggris bernama Richard, ia mengakuberprofesi sebagai penulis. Richard melakukan kesalahan yang sama dengan Odenigbo, ia membuat Kainene kecewa, mengakibatkan hubungan Olannna dan kainene semakin meruncing.
Kainene dan Olanna digambarkan sebagai wanita yang cerdas, tegas, dan berani mempertahankan apa yang mereka percayai, walau demikian Kainene lebih menonjol dan dominan, Ia sedikit sompral dan cendrung sarkastis. Mereka bukanlah sepasang saudara kembar yang rukun.
Pada tahun 1967 pecah perang saudara antara suku Hausa dan Fulani di Nigeria utara menghadapi suku Igbo dan berbagai suku lain di Nigeria Selatan. Pemberontakan ini dipicu oleh tindakan penguasa yang korup dan kurang manguasai jalannya pemerintahan. Yang kemudian memproklamirkan diri menjadi Negara Biafra.
Lalu sinilah kisah yang sebenarnya dimulai, dilatarbelakangi perang saudara yang berkecamuk, kedua saudara kembar ini bersama pasangan masing-masing melaui masa perang yang sulit. Olanna dan Odenigbo mengungsi ke rumah ibu Odenigbo dan kemudian harus pindah lagi ke rumah yang lebih kecil sampai akhirnya tinggal di sebuah kamar sempit bersama seorang pelayan dan putri mereka. Sebagai sepasang suami istri terpelajar, yang biasa hidup nyaman dengan fasilitas dan pergaulan kelas atas kini harus beradaptasi dengan lingkungan kumuh kelas bawah. Beratnya kehidupan saat itu menguji kesetiaan dan cinta mereka.
Sementara itu Kainene yang sebelumnya masih mendapat orderan dalam bisnisnya mulai merasakan dampak perang terhadap bisnisnya. Ia kemudian berinisyatif mengurus kamp pengungsi, sedangkan Richard mulai menulis berbagai artikel tentang situasi perang yang ia saksikan sebagai "orang luar" yang kebetulan berada di wilayah konflik.
Selain tokoh-tokoh diatas, masih terdapat satu karakter yang merupakan tokoh pembuka novel ini, Ia adalah Ugwu, pelayan setia Olanna dan Odenigbo: bocah lelaki berumur 13 tahun, berasal dari desa yang masih mempercayai hal-hal gaib. Ugwu adalah sosok anak lelaki yang selalu ingin tahu dan mau belajar, kepalanya dipenuhi pikiran-pikiran khas remaja lelaki yg sedang puber, Ia sering membayangkan gadis-gadis yang ia idamkan secara fisik. Kemudian Ia mengalami pertarungan batin yang hebat dikala harus menghapus kesalahannya dimasa lalu. Ugwu sangat mengidolakan tuannya—Odenigbo—yang pintar.
Novel ini memiliki kisah yang komplek, Adichie yang saat perang terjadi belum lahir dengan berani menggambarkan—bahkan dengan sangat detail—berbagai situasi yang dialami para tokoh, seperti saat kejadian Olanna terjebak di Lagos saat harus pulang ke Nsukka menumpang sebuah kereta api berisi penuh muatan manusia. Olanna melihat seorang ibu yang menyimpan...
"Olanna look into the bowl. She saw the little girl's head with the open ashy-grey skin and the plaited hair and rolled- back eyes and open mouth. She stared at it for a while before she looked away.somebody screamed" (p.149)
Lalu saat Richard berada di airport dan melihat seorang petugas bandara yg baru saja berbicara dengannya, ditembak persis di hadapannya…
"Richard willed him to say the words, anyway, to try: he willed something, anything, to happen in stifling silence and if in answer to his thoughts, the rifle went off and Nnaemeka's chest blew open, a splattering red mass, and Richard dropped the note in his hand." (p.153)
Pada momen-momen seperti ini Adichie sangat piawai menggambarkan kerapuhan hati manusia, bahwa manusia adalah makhluk yang lemah, mudah terluka, mudah terprofokasi, manusia melakukan apa saja dalam keadaan lapar dan nafsu amarah. Kemudian dilain waktu mencoba mengobatinya dengan cara melakukan kesalahan lain tanpa sadar dan kemudian menyesalinya.
Selama dalam situasi perang , para penduduk kesulitan mendapatkan makanan, pakaian, bahan bakar bahkan sabun dan garam. Suasana mencekam terasa dimana-mana, pembantaian, pemerkosaan, penjarahan, orang-orang takut bertemu tentara. Anak-anak menderita Kwashiorkor—gangguan gizi akibat kekurangan protein yang mengakibatkan perut buncit, rambutnya menipis, anemia, diare, wajah membulat dan sembab.
Para pengungsi bermukim di tempat penampungan sementara yang minim sarana sehingga penyakit kulit dan penyakit lainnya merajalela,kematian di kamp pengungsian tak dapat dihindari. Sementara yang bertahan hidup menderita kelaparan dan dilanda perasaan was-was, para wanita takut diperkosa, karena disetiap kesempatan ada saja pihak-pihak yang mengambil kesempatan dalam kesempitan, belum lagi serangan bom dari udara yang bisa datang kapan saja.
Buku ini memorak-porandakan perasaanku, aku yang duduk manis, ditengah hangatnya suasana rumah—saat di luar hujan lebat—membaca lembar demi lembar dengan rakus, merasakan sebuah sensasi aneh yang dulu pernah kurasakan saat membaca "The Kite Runner-nya Khaleed khosaeni. Perasaan geram, hingga membuat dadaku terasa sesak, Rasa-rasanya aku tak mampu membayangkan mereka yang pernah mengalami secara langsung saat-saat sulit dan mencekamnya suasana perang, merasakan kepedihan disaat harus kehilangan sahabat dan anggota keluarga.
Sebagai kisah yang bersetting sejarah Adichie mengemasnya dengan kejujuran yang mengagumkan. Ia berhasil melakukannya, membuat nafasku berdegup kencang, dan berurai air mata. Kisah tragis perang saudara dan pertikaian ras yang menelan banyak nyawa dibalut kisah cinta, pengorbanan dan penghianatan. Tak heran jika novel keduanya ini meraih Orange Broadband prize for fiction 2007, sebuah penghargaan yang diberikan oleh lembaga sastra dari Inggris untuk keaslian cerita fiksi yang ditulis oleh penulis wanita di seluruh dunia. She deservedly so.
Chimamanda Ngozi Adichie lahir pada 15 September 1977 dan dibesarkan di Nigeria. Lulusan Johns Hopkins University Connecticut ini telah menerbitkan novel pertamanya yang berjudul "The Purple Hibiscus" pada tahun 2003, buku ini berhasil masuk daftar peraih Orange Broadband prize for fiction 2004 dan dijuluki sebagai "Buku Tahun Ini" oleh San Fransisco Chronicle.
Edisi bahasa Indonesia buku ini telah diterbitkan oleh Penerbit Hikmah Cetakan I, Agustus 2008 dengan ketebalan 761 halaman diterjemahkan oleh Rika Iffati.
-echy- Yang menunggu dengan sabar kiriman hadiah dari kobo *gr.com
Posted at 10:03 pm by echyart
Permalink
Penulis: Neil Gaiman
Penerjemah: Tanti Lesmana
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, cetakan I 2004
Tebal: 228 halaman
“Coraline” bercerita tentang seorang gadis kecil bernama Coraline yang sering salah dipanggil namanya menjadi Caroline. Ia dan orang tuanya baru saja pintah ke sebuah rumah tua, saat itu ia sedang liburan sekolah. Coraline yang senang “menjelajah” berjalan-jalan keluar rumah dan berkenalan dengan tetangga barunya, ada Miss Spink, Miss Forcible dan seorang lelaki tua yang melatih tikus-tikus untuk sirkus.
Coraline sering merasa bosan, jika sudah begitu ibunya akan menyuruh Ia membaca buku atau nonton video, suatu hari ayahnya menyuruhnya menghitung berapa jumlah jendela dan pintu di rumah mereka yang besar dan tua itu. Ibu dan ayah Coraline bekerja di rumah, tapi itu bukan berarti ia bisa seenaknya mengganggu mereka, ibu dan ayahnya bahkan punya ruangan kerja masing-masing.
Ternyata rumah tersebut memiliki 21 jendela dan 14 pintu. Namun ada satu pintu yang jika dibuka dibaliknyahanya terdapat sebuah tembok —yang terbuat dari batu bata. Saat ibunya sedang pergi berbelanja, Coraline kembali membuka pintu tersebut, namun alih-alih melihat tembok, ia menemukan sebuah lorong menuju rumah lain. Rumah itu persis dengan rumahnya. Disana juga ada “ibu dan ayahnya yang lain”, ibu dan ayah yang mirip dengan kedua orang tua aslinya, hanya saja ibu yang ini kulitnya putih seperti kertas, lebih tinggi dan jemarinya yang panjang tidak berhenti bergerak. Coraline juga memiliki mainan dan kamar di rumah itu. Anehnya ibu dan ayahnya yang ini melarangnya untuk kembali ke rumahnya, mereka ingin ia tinggal bersama mereka selamanya.
Coraline digambarkan sebagai seorang gadis yang pemberani. Menurut ayahnya jika kau merasa takut, tapi tetap melakukannya maka itulah yang dinamakan pemberani, dan gadis kecil ini melakukannya persis seperti yang dikatakan ayahnya. Saat ia menyadari kedua orang tuanya hilang, Coraline berjuang untuk menemukan mereka walau ia harus melawan “makluk” yang menyeramkan.
Yang kutahu Coraline adalah buku anak-anak, jadi wajar saja jika tadinya aku berharap kisahnya akan seperti si Pipi atau si Emilnya Astrid Lindgren atau malah kisah anak-anak ala Jacqueline Wilson. Tapi no..no.., ini buku anak versi Neil Gaiman—jadi teringat bukunya Neverwhere yang juga suram dan absurd. Menurutku buku ini terlalu suram untuk anak-anak, ada kesan menakutkan, apalagi dengan cover serba hitam dengan gambar seorang anak perempuan memegang lilin..hiii.. serreeem !! Mungkin lebih tepat untuk remaja.
Posted at 10:00 pm by echyart
Permalink
Friday, November 14, 2008
Penulis: Mark Haddon Penerbit: PT Serambi Ilmu Semesta
Penerjemah: Ferry Halim Penyerasi: Sidik Nugraha Cetakan I, April 2008
Ini kisah sebuah keluaga modern masa kini. Cerita tentang problema keluarga yang jika dicermati dengan bijak adalah cerminan rumit dan kompleknya kehidupan. Hubungan antara suami, istri, orang tua, anak, serta masuknya “orang lain” kedalam sebuah keluarga.
George
Suami dan ayah yang menghadapi masa sulit saat memasuki masa pensiun. Seorang lelaki yang biasa bekerja dan kemudian harus berdian diri dirumah, berdaptasi dengan cara mengurus kebun, membaca novel, mendengar music jazz dan hal-hal remeh lainnya, masalah klasik lelaki saat mereka kehilangan power-nya sebagai penguasa keluarga. Suatu hari ia menemukan sebuah benjolan berupa segumpal daging berbentuk bulat telur di pinggulnya. George berpikir ia menderita kanker. Ia mulai depresi dan mulai berlaku aneh. George adalah tipe lelaki yang tidak begitu suka berbicara, baginya hal itu tidak mengubah apapun. Menurutnya “Rahasia kepuasan hati terletak pada pengabaian terhadap banyak hal secara menyeluruh.” (hal.14)
Jeann
Seorang Istri dan ibu yang kecewa terhadap diri, anak-anak dan apa yang ia peroleh dari kehidupan berumah tangga. Perlakuan dingin suami yang kurang menaruh perhatian terhadap apapun yang ia lakukan, membuatnya merasa benar-benar diabaikan. Saat Jean memasuki puber kedua ia berselingkuh dengan mantan teman sekantor suaminya. Ia menjalin hubungan terlarang dengan David. Lelaki itu membuatnya merasa paling tahu tentang banyak hal, ia mau mendengarkan dan menaruh perhatian. Bagi Jean perselingkuhan tidak tampak terlalu mirip sebuah penghianatan. Saat George mulai pensiun tak sedikit pun terbersit dalam pikirannya bahwa suatu saat rahasianya akan terbongkar.
Katie
Putri sulung George dan Jean, Katie gagal mempertahankan perkawinannya yang telah menghasilkan seorang putri, ia becerai dan sedang menjalin hubungan dengan Lelaki yang tidak disukai oleh kedua orang tuanya. Katie sendiri tidak yakin dengan perasaan cintanya terhadapa Ray, walaupun demikian ia membutuhkan penopang hidup demi anak dan status sosial. Ia hanya tahu bahwa putrinya membutuhkan figure seorang ayah dan ia merasa nyaman tinggal bersama Ray, di rumahnya yang besar dan nyaman. Menjelang hari pernikahan saat semua mulai sibuk mengurus segala keperluan pesta calon pengantin wanita ini mulai stress, Ia berpikir untuk membatalkan pernikahan mereka.
Jamie
Si bungsu yang menyukai sesame jenis. Jamie mencintai seorang lelaki bernama Tony, namun ia tidak siap mengundangnya ke rencana pernikahan Katie, Ia tidak siap jika keluarganya harus menghadapi kenyataan bahwa putra mereka satu-satunya ternyata seorang homoseksual. Jamie berusaha berkompromi, hingga ia memutuskan harus mengahiri hubungannya dengan Toni. Jamie merasa terkurung dengan pendapat dan norma –norma masyarakat yang menolak hubungan antar sesama yang menurut kebanyakan orang masih merupakan hal yang ganjil. Namun ia tidak bisa menipu diri sendiri.
Penuh detail dengan pikiran –pikiran setiap tokoh, cerita mengalir dari satu karakter ke karakter yang lain, bergelut dengan problema yang mereka hadapi . Membawa pembaca masuk ke dalam pikiran masing-masing tokoh. Mark berusaha menggambarkan suatu masalah dilihat dari berbagai sudut pandang yang berbeda. Mark juga menampilkan humor-humor segar tentang kehidupan, ia juga menyelipkan berbagai referensi buku, musik, perlengkapan kehidupan modern yang menjadi gaya hidup manusia masa kini. Yang mungkin dipilih berdasarkan selera penulis.
Mark Haddon mencoba menyampaikan bahwa dalam membina sebuah keluarga ada banyak kepala yang mempunyai beraneka problema yang harus dilihat dari sudut pandang masing-masing. Tiap individu mempunyai masalah yang hanya bisa dipecahkan dari kacamata mereka sebagai pribadi yang komplek.
Seperti karya mark Haddon sebelumnya “The Curious incident of the Dog in the Night-Time”.buku ini kembali menyita perhatianku, dan memasukkan Mark Haddon kejajaran penulis yang buku-bukunya wajib untuk dimiliki. Selain menulis novel Ia juga telah menerbitkan beberapa kumpulan puisi.
Posted at 09:19 am by echyart
Permalink
|
|
|