Echy NS


about me
:

Hi, call me Echy.
Mother of two .
a dreamer and bookslover.


Please...just enjoy the 'books' and leave your footprints..



My Favorite books
:

The Count of Monte Cristo, Memoir of Geisha, The alchemist, Tuesday with Morrie, Life of Pi, To Kill a Mockingbird, Les Misserables, The Kite Runner, Ronggeng Dukuh Paruk, Biola Tak Berdawai.



more about me
:

Echy at Multiply

Echy at Goodreads

   




"So many books, so little time"."
— Frank Zappa



"Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian."(Pramoedya Ananta Toer)
"


“Siapa pun yang membaca banyak buku, punya mata di berbagai tempat yang unik." — Jostein Garder

My Friends':

* P E R C A

* J O D Y

* F E R I N A

* A L L Y

* N AT N A T

*NAJLAZEA

* K O B O

* Rahib TANZIL


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:


rss feed

Thursday, November 18, 2010
Water for Elephants : Air Untuk Gajah

Water for Elephants : Air Untuk Gajah

Penerbit: Gramedia September 2010

Penerjemah: Andang H. Sutopo

Tebal: 512 hal


Buku ini adalah satu dari beberapa buku yang menurutku sangat mengesankan ditahun 2010, sejajar dengan 'The Thirthteen Tale', 'The Help' dan 'The House of the Spirits'. Sebenarnya buku ini sudah lama masuk dalam wishlist-ku, kebiasaan membaca review sebelum membeli buku membuat wishlist-ku semakin panjang saja, apa daya tidak semua keinginan bisa didapat dengan mudah, dan betapa senangnya saat buku ini diterjemahkan dan dapat dibeli dengan diskon 25% di togamas, catet !! 25% hihi...

Baiklah…cerita diawali dengan kalimat,

"Umurku Sembilan puluh. Atau Sembilan puluh tiga. Salah satunya."

Jacob Jankowski terkurung dalam kehidupan masa tuanya disebuah rumah jompo. Merenungi nasibnya yang harus menjalani rutinitas sebagai orang tua yang dilayani oleh para perawat sambil menunggu dikunjungi secara bergantian oleh anak cucunya. Pada suatu pagi Jacob berulah, Ia marah karena salah seorang musuhnya dipanti jompo tersebut membual tentang pengalamannya membawakan air untuk gajah, Jacob berang dan teringat akan masa lalunya, lalu dimulailah kisah petualangan Jacob waktu muda.

Jacob kuliah di fakultas kedokteran hewan, ia akan segera menjadi dokter hewan persis seperti ayahnya. Namun saat akan menghadapi ujian akhir sebuah kecelakan membuat Jacob harus meninggalkan kuliahnya, Ia gagal mendapatkan gelar dokter hewan. Kesedihan membawa Jacob terdampar disebuah rombongan sirkus yang pada masa itu melakukan perjalanan dari kota ke kota menggunakan kereta api. Awalnya Jacob menjadi pendatang ilegal dirombongan sirkus tersebut, namun ilmunya sebagai seorang calon dokter hewan menyelamatkan hidupnya dan akhirnya menjadi dokter hewan resmi rombongan sirkus tersebut.

Kerasnya kehidupan sirkus dari kota ke kota, sempit & pengapnya gerbong kereta api tempat Ia menghabiskan hari-hari sepanjang perjalanan, persaingan dan kebencian sesame pekerjamembuat Jacob benar-benar melupakan kuliahnya, belum lagi bekerja di bawah tekanan dengan fasilitas seadanya, majikan yang kejam dan uring-uringan harus Ia hadapi demi bertahan hidup. Namun kecintaannya pada binatang membuatnya betah dan terus bertahan, ia hanya ingin melupakan tragedi yang menimpa orang tuanya.

Dibalik kerasnya kehidupan di sirkus, Jacob diperkenalkannya pada cinta terlarang. Ia bertemu dengan si cantik Marlena, yang selalu anggun melenggang dan berakrobat dengan cantik di punggung Rosie, si gajah yang setia. Gajah yang hanya patuh pada instruksi Jacob, gajah yang dianggap bodoh oleh semua orang.

Buku ini ditulis berdasarkan riset yang mendalam oleh Sara Gruen, diawali saat dia membaca sebuah artikel dari Chicago Tribune mengenai seorang fotografer yang mengikuti rombongan sirkus keliling Amerika pada tahun 1920an dan 1930an. Lalu dilanjutkan dengan beberapa buku yang berhubungan dengan sirkus dan foto-foto sirkus zaman dahulu. Buku ini diselingi foto-foto lama dan beberapa kutipan fakta dan anekdot. Buku ini masuk ke dalam 10 best books of decade versi about.com

Water for Elephant telah diangkat ke layar lebar dan mungkin sebentar lagi akan segera tayang di Indonesia, sayangnya saat ngintip trailernya di youtube, belum apa-apa aku udah lemes duluan gara-gara melihat siapa pemeran utamanya *lho!!, yaahhh…seperti yang sudah-sudah film yang diangkat dari buku sering membuatku kecewa, hihi…nonton juga belum udah protes duluan. Tapi ya sudahlah…buku dan film memang berbeda…kita tunggu saja film-nya. Tapi jangan lupa, baca dulu bukunya…5 bintang deh..:D


-echy-



Posted at 08:35 pm by Echy NS
Comments (2)  

Saturday, March 13, 2010
The Help

 

The Help by Kathryn Stockett
Amy Einhorn Books Putnam 2009
451 p.


Wowww….
Hard cover setebal 451 halaman ini kubawa kemana-mana selama 5 hari terahir, ke sekolah mengantar anak-anak, ke bank, menunggu ananta latihan, ke dokter gigi…pokoknya….kemana-mana :D

Kisah ini berlatar belakang tahun 1962 di Missisipi, saat hak-hak asasi sebagai manusia masih dibatasi oleh warna kulit, bercerita tentang kehidupan pembantu rumah tangga kulit hitam yang bekerja pada majikan kulit putih dengan segala suka dukanya. Mulai dari jam kerja, upah yang minim hingga perlakuan dan aturan-aturan yang tidak manusiawi. Belum lagi fasilitas umum seperti rumah sakit dan sekolah yang terpisah antar warga kulit putih dengan warga kulit hitam.

Dituturkan oleh orang pertama secara bergantian oleh 3 orang wanita dengan latar belakang, umur, dan sifat, yang berbeda. Lalu ketiga wanita ini berjuang bersama-sama untuk sebuah perubahan yang bisa membuat nyawa mereka terancam.

Miss Skeeter
22 tahun, baru saja menyelesaikan kuliah dan langsung pulang ke kampung halamannya di Jackson Missisipi, Ia bermimpi untuk menjadi seorang penulis dan journalist, Sementara menunggu panggilan pekerjaan Skeeter bekerja pada sebuah surat kabar local di kotanya. Hari-harinya diselingi dengan berkumpul bersama-sama teman semasa kecilnya yang hampir semua telah menikah. Ia sendiri single dan sempat dicuriga tidak menyukai lelaki oleh ibunya. Skeeter digambarkan sebagai seorang wanita yang pintar dan tegar, tahu persis apa yang dia mau, agak tomboy dan sama sekali tidak mengerti fashion.

Aibileen
Bekerja pada seorang wanita plin-plan yang terlalu sibuk berusaha tampil sempurna didepan teman-temannya. Aibeleen telah mengasuh dan membesarkan 17 orang bayi sepanjang hidupnya, penyayang dan penakluk anak-anak, ia menganggap semua putra majikannya adalah bayinya, dan mengajarkan mereka hal-hal yang baik dan bermanfaat. Putranya sendiri meninggal karena sebuah kecelakaan setelah tidak lama menyelesaikan pendidikannya. Aibileen memiliki karakter keibuan, sabar dan bijaksana.

Minny:
Terkenal karena pintar memasak dan sering gonta ganti majikan karena mulutnya yang seperti ember bocor. Terahir kali ia dipecat oleh majikannya karena tuduhan pencurian yang tidak pernah Ia lakukan, Suaminya seorang pemabuk dan sering memukulinya. Hidup Minni dihantui oleh perlakuan mantan majikannya. Karakter Minni sangat menghibur, ceplas-ceplos dan seringkali membuatnya terjebak dalam masalah.

Pada awal-awal cerita aku sedikit bingung memahami bahasa yang agak sedikit aneh-- jauh dari tata bahasa—karena penulis menggunakan bahasa (slank?) seorang pembantu rumah tangga kulit hitam pada masa itu.

Kisah yang menegangkan sekaligus menghibur, menyentuh, dan terkadang menyebalkan, semua campur aduk jadi satu. Tokoh-tokohnya begitu hidup dengan karakter yang kuat. Pada awalnya aku berpikir aku suka pada Aibileen yang begitu penyayang dan sabar, atau Skeeter yang pemberontak, tapi semakin lama aku sadari bahwa setiap tokohnya mempunyai suara yang khas.

Satu lagi…untuk sebuah novel yang menyinggung masalah berat seperti ras dan hak-hak asasi manusia, buku ini terasa begitu "ringan" . Namun diluar topik yang berat itu, buku ini sangat sederhana, berbicara tentang hubungan dua wanita:

"For women to realize, We are just two people. Not that much separates us. Not nearly as much as I'd thought."

Dua jempol buat novel perdana Kathryn Stockett ini. Lebih jauh tentang penulisnya bisa dilihat di
http://www.kathrynstockett.com/



**tambahan: Dalam buku ini penulisnya sering sekali menyebut-nyebut "To Kill a Mickingbird...duh, jadi pengen baca ulangg..:D


-echy-
yg lagi gundah menunggu "I am the Messenger" yg tak kunjung datang

Posted at 09:32 am by Echy NS
Comment (1)  

Wednesday, January 27, 2010
Buku-Buku 2009

 

Buku-Buku 2009

Selamat Tahun Baruuuuuu…

*Hah.... hari gini baru ngucapin selamat tahun baru, hihi…please, dweehh…Tongue*

Tapi lebih baik (terlambat) kaaan, dari pada tidak samasekali *hallahh*

Lagian ini (baru) tanggal 27 Januari, masih Januari gitu lho...

Baiklah, di postingan perdana di tahun 2010 ini aku mau melaporkan buku-buku yang kubaca tahun 2009.

Tidak banyak, jumlahnya jauh menurun dibanding tahun lalu, udah jumlahnya sedikit itupun ada yang baca ulang  (buku-buku Roald Dahl, Astrid Lindgren dan NH.Dini)

So, apa saja yang kulakukan  tahun 2009? Selain sibuk dengan berbagai proyek yang berhubungan dengan kerjaan, aku mulai menulis…*yippieeeeeee…*

Ya, kali ini beneran menulis, buku pertamaku sedang dalam proses editing dan pembuatan ilustrasi oleh sebuah penerbit , jika tidak ada kendala insya Allah akan terbit sekitar pertengahan tahun ini, dan….saat ini aku sedang mengerjakan calon buku kedua *semoga dimudahkan ya Allah..amin*

Bukunya tentang apa, kita lihat saja nanti…Wink

Ok, ini dia daftar buku yang kubaca tahun 2009

Non Fiksi

 

1.      Honeymoon With My Brother  by Franz Wisner

2.      Anne of Green Gables by Lucy.M montgomery

3.      The First Time by Joy Fielding

4.      The Book Thief by Markus Zusak

5.      Kabul Beauty School by Deborah Rodriguez

6.      Matilda by Roald Dahl

7.      Esio Trot by Roald Dahl

8.      The Giraffe and the Pelly and Me by Roald Dahl

9.      The Enormous Crocodile by Roald Dahl

10.  The magic Finger by Roald Dahl

11.  The Twids  by Roald Dahl

12.  A Living Nightmare  #1  by Darren Shan

13.  The Vampire's Assistant   #2  by Darren Shan

14.  Tunnels of Blood   #3  by Darren Shan

15.  Emil dari Lonneberga by Astrid Lindgren

16.  Semua Beres kalo ada Emil by Astrid Lindgren

17.  Kenakalan-Kenakalan Baru Emil by Astrid Lindgren

18.  The Wedding Officer   by Anthony Capella

19.  The Ministry of Special Cases by Nathan Englander

20.  Diary of a Wimpy Kid  #1  by Jeff Kinney

21.  Diary of a Wimpy Kid  #2  by Jeff Kinney

22.  Breakfast at Tiffany's by Truman Capote

23.  After : Luc dan Aku by Francis Chalifour

24.  The Inheritance of Loss by Kiran Desai

25.  My Sister's Keeper by Jodi Picoult

26.  The Time Traveler's Wife by Audrey Niffenegger

27.  Fofo dan Senggring by Budi Darma (kumcer)

28.  Namaku Hiroko by NH.Dini

29.  Pada Sebuah Kapal by NH.Dini

30.  Run by Ann Patchett

31.  Congo by Michael Crichton

32.  Persuasion by Jane Austen

33.  Honeymoon by James Patterson, Howard Roughan

34.  Alice in Wonderland by Lewis Carroll,

35.  Canting  by Arswendo Atmowiloto

36.  Burung-Burung Manyar by Y.B. Mangunwijaya

37.  Project Princess   by Meg Cabot

38.  The Princess Present (Natal Sang Putri)  by Meg Cabot

39.  Daddy-Long-Legs by Jean Webster

 

Non Fiksi:

 

40.  Aku Anugrah dan Kebaya by Anne Avantie

41.  Updo by Sugimartono

42.  Serasi dan Gaya Berakain by Tini. S & Amy. W

43.  Sukses Berbisnis Internet by Sukarto & Hianoto.

44.  Classic Make-up and Beauty Book by Mary Quant

45.  Became a Wedding Planner by Catherine Goulet

46.  Gaul Jadul: Biar Memble Asal Kece by Q Baihaqi

47.  Kreasi Sanggul Pengantin Modern by M.Deddy

Nahhh..ini dia yang berkesan:

 

·         The Book Thief by Markus Zusak

·         The Time Traveler's Wife by Audrey Niffenegger

·         Canting  by Arswendo Atmowiloto

·         Daddy-Long-Legs by Jean Webster

·         Aku Anugrah dan Kebaya by Anne Avantie

 

Yupp..

Itu dia buku-buku yang menemaniku tahun 2009…

Resolusi?...mmm gak bikin resolusi apa-apa tahun ini Shades

Yang pasti akan terus membaca, hanya meungkin lebih selektif.

Tau sendiri kan, terlalu banyak buku bagus diluar sana.

Btw, ngomong-ngomong soal resolusi aku berhasil menyunat pengeluaran buat beli buku tahun 2009 kemaren, menahan diri untuk tidak lapar mata, beli hanya yang akan dibaca !! Dan…..berhasill-berhasilll….*joged dora* so last year sekali ya, si dora ini (lol)

 

So far aku sudah membaca 4 buku bulan ini, dan akan mulai bikin resensi lagi…

Semangattttt……(rock)

 

 

 

 


Posted at 09:31 am by Echy NS
Make a comment  

Friday, August 07, 2009
Kabul Beauty School

Penulis: Deborah Rodriguez                                                                                    Penerjemah: Gunardi dan Aan
Penyunting: Desy
Penerbit: PT. Bentang Pustaka, Maret 2009, 430 Halaman

Buku ini kubeli tanpa membaca synopsis-nya terlebih dahulu,  biasanya, aku selalu membaca synopsis buku yang akan kubeli, bahkan terkadang baca dulu review-nya di internet. Namun kali ini judul dan covernya, membuatku berpikir pastilah berhubungan dengan kerjaan, maka buku ini pun lolos masuk kantong belanjaan.

Tidak jauh meleset dari dugaan, Kabul Beauty School adalah sebuah memoir seorang peñata kecantikan bernama Deborah (Debbie) Rodriguez, seorang wanita  Amerika yang setelah mengalami kegagalan dalam perkawinannya  memutuskan untuk bergabung dalam sebuah misi kemanusiaan di Afganistan.

Kunjungan perdana  Debbie ke Afganistan membuat matanya terbuka lebar melihat carut-marutnya negeri itu akibat perang, alih-alih membantu teman-temannya menangani korban perang, Debbie malah ditugaskan untuk mengajarkan ilmu kecantikan yang Ia miliki pada wanita Afganistan. Singkat cerita Debbie kembali ke Amerika dan mulai mencari dukungan dana dan berbagai kebutuhan kecantikan yang akan ia perlukan untuk membuka sekolah kecantikan di Kabul.

Ini buku  kesekian  yang  bercerita tentang Afganistan,  kembali bercerita tentang malangnya kehidupan wanita disana.  Wanita benar-benar diremehkan,  sama sekali tidak memiliki hak apa-apa, KDRT sangat lumrah terjadi , wanita hanya menunggu untuk dinikahkan berdasarkan pilihan ayahnya, lalu punya anak dan tunduk pada suami, tunduk dan takut pada suami dalam arti yang sebenarnya.

Hal itulah yang membuat Debbie bertekad untuk mengajak  para wanita untuk belajar mandiri , mempunyai keahlian agar mereka  lebih dihargai para suami, sehingga mereka tidak diperlakukan semena-mena dan tidak dipandang sebelah mata. Debbie membuktikan bahwa kaum  perempuan juga bisa menghasilkan   uang, bahkan jauh lebih besar dari penghasilan suami mereka.

Tentu saja banyak hal yang dialami Debbie untuk mewujudkan keinginannya itu.  Dalam masa pendudukan Taliban, semua peralatan kecantikan dihancurkan, bahkan sepotong cermin sekalipun. Lalu tidak semua suami mengizinkan istrinya keluar rumah untuk mengikuti kursus, tidak sedikit yang mengalami penyiksaan akibat terlambat pulang dari jam yang diizinkan suami mereka.

Memoir ini ditulis dengan ringan, penuh humor, juga terkadang  memilukan. Banyak bercerita tentang berbagai teknik tentang make-up, hair-do, bahkan adat istiadat dan  tata rias pengantin Afganistan, yang menurutnya lebih mirip ratu waria, alih-alih membuat calon pengantin menjadi cantik dan elegan:D

Yang menjadi ganjalan adalah menurutku Debbie terlalu bertele-tele dalam penulisannya, bahkan agak sedikit  ironis jika menyinggung kehidupan pribadinya , ia gemar pesta, minum dan perokok.  Debbie   berniat mulia ingin menolong wanita-wanita malang di Kabul, namun Ia sendiri tidak belajar dari pengalaman akan kegagalannya berumah tangga, Ia terburu-buru menikah lagi dengan seorang lelaki Taliban karena dijodohkan oleh teman-temannya di Kabul, Suami keduanya lelaki yang telah memiliki anak dan istri di negara lain, sementara i itu ia sendiri meninggalkan anak-anaknya bersama ibunya  di Amerika.

Deborah Rodriguez telah menjadi penata  rambut sejak tahun 1979. Sempat menjadi pegawai pemeriksa di kota kelahirannya, Holland, Michigan. Saat ini Ia memimpin sekolah Kecantikan Kabul, akademi kecantikan modern pertama di Kabul. Kisah ini diangkat kelayar lebar oleh Columbia Pictures dan akan segera beredar.

 


Posted at 10:40 am by Echy NS
Comment (1)  

Sunday, July 12, 2009
The Book Thief

The Book Thief
by Markus Zusak
First Knopf trade paperback edition
September 2007
550.p


Kisah ini dituturkan oleh “malaikat pencabut nyawa” (titik)
Berlatar belakang Perang Dunia  pada awal tahun 1939  di German (titik)      
Suatu masa dimana Nazi sedang berkuasa(titik)

Stoppppppp…!!!!    
Ada perang? Hitler? Jew?
Lalu dinarasikan oleh orang yang sudah mati?                                    
Sepertinya  terlalu berat untuk buku dengan label young adult..(woot)

Upppsss…sabarrr…jangan tertipu.. ini adalah kisah tentang perjuangan hidup seorang  anak berumur 9 tahun bernama Liesel Meminger, yatim, buta huruf, tinggal dengan orang tua angkat, belajar membaca, hingga jatuh cinta pada kata-kata, rela mencuri buku untuk menghapus dahaga membacanya.

“You hungry”? Rudy asked.
Liesel replied. “Starving” for a book (p.287)
It’s a shame you can’t eat books (p.291)

The Book Thief bercerita tentang keberanian, persahabatan, cinta, kasih sayang, kesedihan dan kematian. Buku ini akan menjadi salah satu buku terbaik yang kubaca tahun ini…5 bintang dariku.    
trust me…;)

Baiklah..

Liesel bersama ibu dan adiknya sedang dalam perjalanan menuju rumah calon orang tua angkatnya. Dalam perjalanan itu, adik lelakinya menghembuskan nafas terahirnya, adiknya meninggal dunia  dalam keadaan lapar dan kedinginan, terbujur kaku disebuah gerbong kereta api yang sedang meluncur.

Setelah pemakaman adiknya yang berlangsung ditengah derasnya salju, Liesel menemukan sebuah buku berjudul “The Grave diggers Handbook” Ia memungut buku tersebut dan melanjutkan perjalanan bersama ibunya.

Hans Hubermanns dan Rossa Hubermanns tinggal  Himmel Street di Molching, mereka mengangkat Liesel menjadi anak angkat, Hans seorang tukang cat rumah yang bisa memainkan accordion, sedangkan Rossa mencuci pakaian bagi orang-orang kalangan atas.

Walau hidup Liesel jauh lebih nyaman dibanding dengan sebelumnya, namun kenangan akan ibunya, ayah kandung yang tak pernah ia ketahui,  hingga kenangan akan kematian  adiknya  selalu menghantui  tidur malamnya, Ia sering terjaga sambil berteriak hingga ayahnya terbangun dan menemaninya, disinilah awal ia menunjukkan buku pertamanya, lalu Hans mengajarinya membaca.

Liesel mulai menjalani hidup “normal” . Ia  membantu sang ibu disiang hari, bermain dengan Rudy  sahabatnya, lalu belajar membaca dengan ayahnya pada malam hari.

Sampai pada suatu hari ketika ayahnya kedatangan seorang tamu bernama Max, seorang Jew, putra dari sahabatnya yang dulu mengajarkan Hans bermain accordion  mereka sama-sama tergabung  dalam satu pasukan  saat Perang Dunia I. Ia pernah berjanji akan membatu sahabatnya itu jika Ia membutuhkan sesuatu, sampai akhirnya Max muncul di rumahnya meminta perlindungan. Hans adalah seorang German yang tidak membenci Jew, walau saat itu ia menyadari resiko  besar yang akan ia tanggung.

Kedatangan Max, melengkapi konflik dari keseluruhan cerita ini, Zusak dengan keahliannya merajut kata, membangun karaktek setiap tokoh, Hans yang sabar dan baik hati, Rossa yang sompral namun berhati lembut, Rudy yang nakal dan pemberani, Max yang lemah dan tak berdaya namun penuh kasih terhadap Liesel, Narator gentayangan yang suka membocorkan akhir cerita dan tentu saja…Liesel yang sangat hidup: bermain bola bersama Rudy, mencuri buku di rumah istri sang Mayor, menyampaikan laporan cuaca pada max, menghibur para pengungsi di tempat perlindungan saat bom berjatuhan.

Ada lagi kisah persahabatan yang manis antara Rudy dan Liesel, perjuangan Hans, Rossa dan Liesel melindungi Max, kemauan Liesel yang besar untuk mendapatkan buku sampai derita para tetangga dalam melawan rasa takut mereka, ditambah kekhawatiran akan ancaman diambilnya anak lelaki mereka oleh tentara Hitler, dan tentu saja, derita seorang Max….

Bagiku, buku bagus adalah buku yang bisa “menghantuiku”, buku yang tokohnya membuatku menangis dan tertawa, buku yang membuatku tak mau berhenti membalik halaman berikutnya, buku yang kalimat-kalimatnya membuatku berpikir dan menikmati setiap kata-katanya yang indah.. buku yang isinya sampai terbawa ke dalam mimpi.
(it’s kind of  weird..in my dream,.. Hans ate Liesel ..*doh*)

Terahir…banyak kalimat narator yang menurutku sangat menyentuh, disela-sela kisahnya,  Ia seolah ingin menumpahkan kekesalannya akan perang yang membuat pekerjaannya tiada habis-habisnya:

“I was still getting  over Stalin in Rusia…”
Then came Hitler...
They say that war is death’s best friend, but I must offer you a different point of you on that one. To me, war is like the new boss who expects the impossible…..”get it done, get it done.”
So you work harder… The boss, however, does not thank you. He ask for more…(p.309)              
Even death has a heart…..(p.242)

Buku ini merupakan awal perkenalanku yang sangat berkesan dengan seorang Markus Zusak. The Book Thief menjadi bestseller versi New York Times dan USA Today, meraih banyak penghargaan yang salah satu diantaranya “Winner of the  Book Sense Book of the Year Award for Children’s Litetartur” Beberapa karya Zusak lainnya adalah Getting the Girl, Fighting Ruben Wolfe, dan I’m the Messenger yang meraih a Michael L. Printz Honor Book Award.
Markus Zusak kini tinggal di Sydney Australia bersama istri dan putrinya.

 

-echy-
yang ternyata punya beberapa draft review *menunggu untuk diedit*

 

 

 

 

 

 

 


 


Posted at 12:45 pm by Echy NS
Comments (2)  

Thursday, May 28, 2009
The First Time

Penerjemah: Threes Susilastuti (alm.) J.E Retno Dwiastuti
Penerbit: Gramedia, September 2005
Tebal: 432 hal.


Buku ini kudapatkan di Palasari dalam kondisi sangat mulus bersama 2 buku Darren Shan, tanpa sempat membaca synopsis-nya ketiga buku itu masuk dalam kantong belanja. Setelah sempat  tergeletak begitu saja, akhirnya 3 hari yang lalu dipilih secara acak saat akan tidur. Pada awalnya aku sempat berpikir..arrggg..another affair story….tapi setelah membaca beberapa lembar aku berubah pikiran, this is more than just an affair story.

Jake dan Mattie menikah karena Mattie telah terlanjur hamil. Pada dasarnya Jake tidak pernah mencintai Mattie ,pada awalnya mereka memang saling tertarik, hingga terjadi kesalahan itu dan… that's it…mereka terjebak dalam sebuah perkawinan selama 16 tahun. Jake sibuk dengan urusannya sebagai pengacara terkenal. Mattie  sibuk membesarkan putri semata wayang mereka, Kim,  sambil bekerja sebagai agen seni. Mattie telah lama mengetahui suaminya berselingkuh dengan wanita lain, begitu pula dengan Kim, ia pernah melihat ayahnya bermesraan dengan wanita yang bukan ibunya.

Awal cerita menggambarkan pergolakan batin Mattie yang membayangkan dirinya membunuh suaminya karena perselingkuhan yang Jake lakukan berulang kali di belakangnya. Ia pikir cukup sudah, waktunya untuk mengakhiri perkawinannya. Ia lelah dan muak dengan semuanya. Ia akan melepaskan Jake.

Namun saat pulang dari sebuah galerri seni, Mattie mengalami kecelakaan mobil. Ia tidak dapat mengontrol rem, ia sering merasa kesemutan dan tidak bias mengontrol anggota tubuhnya. Tak lama kemudian Mattie divonis menderita penyakit ALS (Amyotrophic Lateral Sclerosis) atau yang lebih sering dikenal dengan Lou Gehrig—adanya kerusakan pada neuron-neuron motorik di sumsum tulang belakang dan batang otak yang mengakibatkan matinya sel-sel saraf. Mattie menyadari ia sedang sekarat di usianya yang 36 tahun, dan suaminya yang ia cintai akan pergi meninggalkannya bersama wanita lain. Lengkaplah sudah…

Selain perselingkuhan Jake dan penyakit yang dideritanya, Mattie juga harus menghadapi putrinya Kim yang sedang mengalamai masa-masa sulit kehidupan remaja. Kim mengungkapkan kemarahannya dengan cara "mengajak" teman lelakinya ke rumah saat kedua orang tuanya tidak ada, menghisap marijuana, dan mengadakan pesta hingga menghancurkan perabotan rumah orang tuanya.

Jake yang telah siap meninggalkan Mattie dan tinggal di apartemen kekasihnya mengurungkan niat tersebut dan kembali ke rumah begitu mengetahui keadaan Mattie. Bukan karena cinta, tapi ia kembali karena kasihan, karena Jake selalu melakukan hal yang "lurus". Namun Mattie menuntut lebih…

"Yang kuinginkan adalah hasratmu, yang kuinginkan adalah kesetiaanmu, yang kuinginkan adalah cintamu, dan bila aku tidak bisa mendapatkan semua itu, bila kau tidak dapat sedikitnya berpura-pura mencintaiku untuk setahun atau dua tahun atau berapa pun sisa usiaku, aku tidak mau kau berada disini". (hal.253)

Drama dalam keluarga ini dimulai, Jake kembali kerumah dan benar-benar melakukan perannya sebagai suami dan ayah yang baik, pulang untuk makan malam, menemani istrinya berbelanja, mengantar putrinya ke sekolah, dan berhenti menemui selingkuhannya.

Jake mulai terbuka pada Mattie begitu pula sebaliknya, mereka melakukan berbagai hal yang selama 16 tahun tidak pernah mereka lakukan, mereka "bicara", Jake sedikit demi sedikit mulai menceritakan masa kecilnya pada Mattie. Dibalik ketenangannya, Jake  menyimpan seribu luka masa kecil yang masih menghantui mimpi-mimpi malamnya. Begitu pula dengan Mattie, trauma masa kecilnya tentang ibu yang tidak menyayanginya terus mengusik.
Mattie semakin menyadari betapi ia sangat mencinyai suami yang tidak pernah benar-benar ia miliki, sementara itu penyakit Mattie semakin parah, ia bahkan tidak bisa melakukan kebutuhannya yang paling mendasar, ia semakin tergantung pada orang lain dan Jake tentu saja. Jake sendiri bergelut dengan pekerjaan yang terus menerornya, disisi lain ia harus selalu ada untuk istrinya yang sekarat, tidak hanya itu,  kembali hadirnya kekasihnya disaat-saat Jake mulai merasakan bahwa ia mencintai istrinya, benar-benar membuatnya bingung.

Ini bukan kisah yang happy ending, sangat mengharukan dan menyentuh, sebuah kisah drama keluarga,  perjuangan seorang wanita meraih cinta seorang suami….sungguh ironis. Aku sempat membayangkan bagaimana rasanya menikah selama 16 tahun bersama seorang lelaki yang tidak pernah sekalipun mengungkapkan kata-kata I love You, hidup serumah dengan orang yang tidak mencintaimu, hidup dengan lelaki yang menemanimu karena sebuah alasan, terjebak oleh sebuah kesalahan.

Joy Fielding menggambarkan pikiran masing-masing tokoh dengan sangat menyentuh. Pembaca diajak untuk merasakan pergulatan batin Mattie yang kecewa dengan perkawinannya, Menelusuri jejak masa lalu Jake yang membuatnya selalu hidup dalam terror masa kecil, serta memahami seorang Kim yang bingung menghadapi perubahan kehidupan masa remaja dan orang tua yang tidak harmonis.

Banyak pelajaran berharga di buku ini, bagaimana perlakuan dimasa kecil sangat mempengaruhi perilaku seseorang saat dewasa, dan kekuatan sebuah komunikasi yang secara ajaib mempermudah semua masalah. Yang paling penting bagaimana kita bisa menjadi seorang ibu yang "sempurna" bagi anak-anak. yupp..pokoknya emak-emak banget dehh..

Keren…..4 bintang dariku. Awal perkenalan yang manis dengan seorang Joy Fielding..Lebih banyak tentang Joy Fielding bisa dibaca disini:<a href="http://www.joyfielding.com/http://www.joyfielding.com/">http://www.joyfielding.com/</a>

 


Posted at 11:13 am by Echy NS
Make a comment  

Tuesday, February 10, 2009
Anne of Green Gables by Lucy.M montgomery

Penerjemah: Maria M. Lubis
Penerbit: Qanita
Cetakan: I, 2008
Tebal: 516 hlm
 
Sudah lama sekali mendengar tentang buku ini,  dan berhasil memilikinya sekitar 3 bulan yang lalu, aku mendapatkan dua edisinya: Anne of Green Gables dan Anne of Avonlea dari Nadya yang sedang mengobral koleksi buku2nya. Kedua buku ini terbitan Bloomsbury Books 1994. Sayang karena berbagai kesibukan dan begitu banyaknya  buku lain menggoda, aku baru sempat membaca setengan dari buku yang  penjualannya melampaui Harry Potter, To Kill a Mockingbird dan Gone ith the Wind ini.

Sampai Desember  lalu saat aku melihat terjemahan buku ini  disebuah toko buku,  sempat terlintas, apakah aku harus memiliki edisi  Indonesianya? Tak lama kemudian pertanyaanku pun terjawab, Aku mendapatkan kado ulang tahun berupa buku ini langsung dari penerjemahnya…yup..tante M.   Itu lho…Maria M. Lubis. Ooh senangnya… (peyuk-peyuk  Umayyy..yang lagi ndut )

Sebagai pembuka aku akan mengatakan buku ini masuk dalam kategori buku klasik yang memesona. Sebuah buku klasik yang layak koleksi dan tidak akan pernah menyesal untuk dibaca berulang-ulang. Tak akan lekang oleh waktu dan dengan bangga akan kuwariskan pada anak cucu.

Green Gables adalah rumah  milik kakak beradik Cuthbert,  Marilla dan Matthew . Mereka berprofesi sebagai petani yang memiliki lahan pertanian yang dikelola sendiri. Seiring dengan pertambahan usia mereka yang semakin tua mereka memutuskan untuk mengadopsi seorang anak lelaki untuk membantu dan menemani mereka.

Matthew kemudian pergi ke kota untuk menjemput anak lelaki yang  akan mereka adopsi. Namun sebuah kesalahan telah terjadi. Setibanya di stasiun, alih-alih menemukan anak lelaki, Matthew malah menemukan seorang  anak perempuan berumur 11 tahun bernama Anne, ia adalah “anak lelaki” yang dijanjikan oleh panti asuhan. Matthew yang pemalu dan pendiam tidak tega untuk mengungkapkan bahwa ia tidak mengharapkan anak perempuan. Ia pun membawa Anne pulang dan berpikir  untuk menyampaikan kekeliruan ini nanti di rumah bersama Marilla.

Marilla tidak kalah terkejutnya saat melihat Anne, ia tak habis pikir,  kenapa seorang gadis berbaju kumal dengan rambut merah yang datang? Bukannya seorang anak lelaki yang bisa  membantu Matthew di ladang.

Anne sendiri sangat bahagia dengan rencana adopsi yang akan dilakukan Matthew dan Marila, Ia sama sekali tidak membayangkan bahwa kehadirannya samasekali tidak diinginkan. Perilaku Anne yang riang, banyak bicara, suka berhayal dan berjiwa romantis membuat Matthew jatuh hati. Ia bersikeras agar Anne tetap tinggal di Green Gables, dan ia akan mencari anak lelaki yang lain. Marilla yang sempat akan memulangkan Anne pun mengalah dan berubah pikiran. Sebuah keputusan yang nantinya akan sangat Ia syukuri.

Sebagai yatim piatu yang pernah tinggal bersama beberapa keluarga, menjadi pengasuh anak dan kemudian tinggal di panti asuhan, membuat Anne sangat senang memasuki lingkungan baru,  diusianya yang baru 11 tahun, ia telah memiliki mimpi-mimpi dan kemampuan berimajinasi yang sangat besar. Ia selalu sadar mata akan dunia sekelilingnya, pemandangan yang indah, cuaca yang cerah, harum bunga, riak air danau, semua menjadi perhatiananya, tidak hanya itu, ia pun memberi  nama setiap tempat yang ia sukai, Kanopi Kekasih, Danau Air Riak Berkilau, Ratu Salju dll. (dua jempol buat penerjemahnya)

Namun daya imajinasi yang tinggi dan rasa romantismenya yang menonjol  membuat Anne menjadi terlihat terlalu dewasa untuk usianya. Hal ini terkadang mengganggu Marilla dan juga para tetangga di Avonlea. Tapi  Anne berhasil meluluhkan hati  warga Avonlea hingga  jatuh hati padanya.

Lucy Montgomery  sang pengarang berhasil menciptakan seorang tokoh yang sangat hidup, aku tak perlu membayangkan seorang anak gadis berumur  11 tahun yang suka mengoceh tak henti , aku merasa Anne benar-benar nyata dan “sedikit kesal” karena ocehannya yang membuatku ngakak dan geleng kepala. (perasaan ini juga dipengaruhi oleh seorang anak di rumahku yang baru saru saja ultah ke 12 tahun  yang senang sekali mengoceh tanpa henti sampai akhirnya berhenti jika ku bilang……cukup…cukup…cukup untuk malam ini..) :-P

Anne berhasil merebut perhatian  dua bersaudara Cuthbert, tapi bukan Anne namanya jika tidak membuat masalah, ia sempat ribut dengan tetangganya Mrs. Lynde, membuat mabuk sahabat baiknya Diana Barry, bertengkar dengan teman sekelasnya Gilbert Blythe, memasukkan minyak kayu putih ke dalam adonan kue, hampir tenggelam di sungai, jatuh dari genteng dan banyak lagi kelakuan Anne yang konyol dan memusingkan yang justru menghibur. Tapi tidak hanya itu, selain kekonyolan yang ia lakukan Anne adalah anak yang suka menolong dan selalu belajar dari kesalahan.

Anne of Green Gables terbit pertama kali pada tahun 1908 merupakan buku pertama yang kemudian disusul 7 buku lainnya. Semoga Qanita menerbitkan buku-buku Lucy M. Montgomery lainnya. Lucy lahir di Clifton (sekarang New London) pada 30 November 1874. Pengalaman hidupnyalah yang memberinya  inspirasi menulis Anne of Green Gables.

Membaca buku-buku  semacam ini membuat  membaca menjadi kegiatan yang mewah dan benar-benar menyenangkan. 5 Bintang untuk Anne of Green gables, untuk kategori buku anak/remaja, buku ini aku sejajarkan dengan buku-buku Astrid Lindgren, dan berhak masuk dalam jajaran buku-buku favoritku yang lain, The Count of Monte Cristo, To Kill a Mocking Bird, Memoir of Geisha, Life of Pi, The Kite Runner, Tuesday with Morrie, Les Miserables. Omg..banyak sekali buku bagus di luar sana.. :-D

 

 

-echy-
yang lagi baca The Book Thief

 

 

 

 

 

 


Posted at 09:54 pm by Echy NS
Comments (2)  

Wednesday, January 28, 2009
Honeymoon With My Brother - Berpetualang Keliling Dunia Gara-Gara Putus Cinta

Penerjemah:  Berliani M. Nugrahani
Penyunting:  Anton Kurnia
Penerbit: PT Serambi Ilmu Semesta


Buku ini mengingatkanku pada impian masa kecil dulu. Bercita-cita bekerja pada  sebuah kedutaan atau perusahaan asing. Tujuannya hanya satu, agar aku bisa ke luar negri dan mengunjungi negeri-negeri asing. Negara yang ingin kukunjungi selalu berubah tergantung buku apa yang sedang kubaca saat itu . Seiring perjalanan waktu, ternyata keinginan itu tidak pernah surut, dan setelah membaca buku ini, aku kembali memperbaharui niat itu, suatu hari nanti, aku akan melihat dunia.

“Jika tidak melakukannya sekarang, kita tidak akan pernah melakukannya. Salah satu dari kita akan menikah dan sibuk bekerja. Tanpa kau sadari, kau sudah berumur enam puluh tahun tanpa pernah  pergi kemanapun.” (hal.94)

Kini aku hanya menjelajahi negeri-negeri asing melalui buku-buku yang kubaca, dan mendengar kisah-kisahnya dari si ayah—yang anehnya samasekali  tidak pernah bermimpi bahwa profesi yang ditekuninya akan membawanya ke berbagai belahan dunia.

Sesaat setelah menamatkan buku ini aku mengatakan pada si ayah bahwa kami harus rajin menabung dan pensiun di usia muda agar bisa keliling dunia, suamiku membelalakkan matanya dan berkata “ Ayah ingin segera berhenti keliling dunia agar bisa diam di rumah berkumpul bersama kalian” ohhh..tidakkkkkkkkkk…..ia menghancurkan hatiku, hiahahaha…

Ahh…baiklah sebelum aku meracau lebih jauh mari kita dengarkan kisah ini..radio kaleee..

Franz Wisner dicampakkan kekasihnya  Annie menjelang hari pernikahannya,  alih-alih meratapi nasib, Franz tetap  menjalankan semua paket bulan madu yang telah direncanakan. Bukan dengan perempuan lain melainkan dengan Kurt—adik lelakinya.

Bulan madu  yang Franz dan Kurt alami menjadi pengalaman yang sangat luar biasa bagi mereka berdua, mereka jadi mulai saling mengenal, sebelumnya, Franz bahkan tidak tahu apa kopi kesukaan adiknya. Mereka yang selama ini terpisah mulai merasakan bagaimana membaiknya  hubungan mereka sebagai saudara. Lalu tercetuslah ide untuk melanjutkan acara bulan madu tersebut.

Franz bekerja sebagai eksekutif humas dan sekretaris pers pemerintah, tak lama setelah “peristiwa Annie” ia pun “dicampakkan” oleh atasan tempat ia bekerja. Maka lengkaplah sudah, Franz mantap untuk berhenti bekerja dan menjalankan rencana “bulan madu” lanjutan bersama Kurt. Setelah Franz mengajukan pengunduran diri dan mendapatkan bonus yg berjumlah wow dari kantornya, dan Kurt pun telah berhasil menjual rumahnya sebagai bekal selama ia menjelajah dunia. Mereka berangkat dengan sedikit rasa heran dari keluarga dan dukungan penuh dari nenek mereka LaRue.

Eropa  adalah benua pertama yang menjadi sasaran,  mereka menuju  Rusia, lalu ke Swedia—menikmati  mobil baru “Saab” milik Kurt yang telah menanti—terus  menuju  Budapest, Rumania, Bulgaria, Turki dan berhasil masuk Suriah.

Dari Eropa mereka menuju Asia Tenggara. Dan tentu Bali adalah salah satu tujuan utama mereka,  disini keduanya terheran-heran dengan kebiasaan penduduk setempat seperti adu ayam dan berbagai tradisi yang unik. Mereka terheran-heran menyaksikan seorang ibu berkebaya dengan  sesajen  lengkap di kepala berhasil “menyeret” seorang anak kecil tanpa menjatuhkan sesajennya. Sedikit kecewa dengan Bali yang ramai mereka lari ke Lombok, berkenalan dengan dunia backpacker dan saling berbagi pengalaman dengan teman-teman baru yang kebanyakan nyentrik. Lalu mengunjungi pulau Komodo, mereka mengalami perjalanan yang “sangat mengesankan” saat menuju pulau tempat binatang yang menurut Kurt adalah sisa-sisa zaman purbakala . Dari Indonesia Perjalananpun dilanjutkan ke Vietnam dan  Thailand

Banyak hal menarik yang mereka alami disetiap negara yang mereka kunjungi, hal- hal yang menyenangkan  sampai yang membuat mereka kesal, mulai dari perbedaan bahasa, adat istiadat setempat,  serta kebiasaan sesama turis dari berbagai negara yang menurut mereka aneh. Salah satu hal yang menurutku kocak adalah saat mereka dicegat polisi dan berhasil lolos saat menunjukkan foto Presiden Bush.

Dari Asia Tenggara mereka menuju Amerika Utara dan Selatan: Caracas,  Equador, Galapagos, Peru dan Brazil dan terahir Afrika: Botswana di Afrika Selatan, Zambia dan Malawi dll. Perjalanan panjang benar-benar telah merubah cara pandang Franz terhadap dunia. Tapi suatu hal yang paling penting dalam perjalannya ia berhasil melupakan dan mengiklaskan Annie.

Selama dalam perjalanan Franz selalu mengirim  kartu pos untuk neneknya LaRue, ia bahkan menulis kisah perjalanannya ke beberapa media yang dilengkapi dengan foto-foto hasil jepretan kurt. Mereka juga mengunjungi beberapa kenalan dan sahabat di sepanjang perjalanan, berkenalan dengan teman-teman baru, beradaptasi dengan karakteristik penduduk setempat dan berusaha berkompromi dengan keadaan. Mereka berhasil melewati masa-masa sulit di Afrika dan sangat bersyukur atas apa yang telah miliki.

Dalam buku ini Franz memberi banyak tips, mulai dari bagaimana menghadapi pedagang asongan, supir taxi yang nakal, sampai anak-anak yang meminta jatah preman. dan membuang buku-buku panduan untuk para turist karena ternyata menipu dan tidak sesuai kenyataan di lapangan.

Adakalanya kedua pasangan kakak beradik ini larut dalam keindahan alam yang memesona,  marah karena tidak semua berjalan sesuai rencana, menagis karena mereka bersyukur menjadi orang Amerika yang bersedia mengeluarkan ribuan dollar demi otot bisep yang menonjol, bukan akibat terpaan hidup seorang ibu di Afrika yang harus berjuang mengendong anak-anaknya yang kurus dan buncit. Franz dan Kurt belajar banyak dari orang miskin. melihat berbagai profesi dan kemiskinan yang jauh diluar bayangan mereka,  terutama di negara-negara ketiga.


“Mereka akan tahu bahwa disebagian besar dunia, anak-anak tidak mengolok-olok teman-temannya gara-gara pakaian, dan orang dewasa tidak meributkan baju yang dikenakan rekan-rekannya.” (hal.474)

“Mereka akan tahu bahwa ibu mereka benar. Ada orang-orang kelaparan di Afrika. Jadi, makanlah sayuranmu” (h.477)

franz dan Kurt tahu bahwa perjalanan mereka akan menjadi pendidikan seumur hidup. Ada banyak tipe pejuang hidup yang mereka temui yang membuat mereka tersentuh. Bahwa komunitas miskin tidak seluruhnya mengenaskan, mereka memiliki energy, persahabatan dan nilai spiritualitas yang tinggi, yang jarang dijumpai di kota-kota di Barat.

Mereka memahami beginilah hidup, tidak semua sesuai harapan,  kita tidak selalu mendapatkan apa yang kita inginkan, yang pasti selalu ada kisah besar dibalik sebuah peristiwa.

4 Bintang untuk Honeymoon With My Brother. Bagi pembaca dan pecinta travelling khususnya, pasti akan tergoda dengan alur ceritanya yang mengalir,  banyak kejutan yang menanti disetiap babnya, kocak dan mengharukan, terjemahan yang ok—pasti sudah pada kenal dengan mbak Berliani sang penerjemahnya kan?—dan  sejauh ini aku tidak menemukan salah ketik dan hal-hal yang mengganggu lainnya.

Baiklah sementara kalian membayangkan isi buku ini dan berkeliling dunia bersama Franz dan Kurt, aku akan merayu Mr.Chef  agar merubah keputusannya dan segera mengajakku keliling dunia beneran..

 

 

Segera tayang..Anne of Green Gables

 

-Echy-
Yang dengan bangga menamatkan buku pertama di th 2009

 


Posted at 10:48 am by Echy NS
Comment (1)  

Sunday, January 11, 2009
Buku-Buku 2008

Setelah sempat melihat-lihat buku yang kubaca tahun 2008, baik yang ada di rak buku maupun yang sempat kutulis review –nya di Multiply dan di Blogdrive, akhirnya aku berhasil melawan rasa malas untuk menulisnya. Berikut daftarnya, ditulis secara acak (seingatnya, tidak berurutan)

FIKSI  
1. Man and Boy by Tony Parson
2. Out by Natsuo Kirino
3. Sams Letter to Jenifer by James   Patterson                                                    
4. Veronika Memutuskan Mati by Paulo Coelho
5. For One More Day by Mitch Albon
6. In Cold Blood by Truman Capote
7. Chicken Soup for Mother Soul by Jack Canfield
8. The Husband by Dean Koontz
9. Si Gila Belanja Akhirnya Kawin Juga by Sophie Kinsella
10. Perantau (kumcer) by Gus tf Sakai
11. Catcher in the Rye by J.D Salinger
12. Saving Fish From Drowning by Amy Tan
13. The Golden Compass by Philip Pullman
14. Stardust by Neil Gaiman
15. Eleven Minutes by Paulo Coelho
16. Snow by Orhan Pamuk
17. Maximum Ride #1 by James Patterson
18. The Gas Room by Stephen Spignesi
19. Dragon Keeper by Caroline Wilkinson
20. Garden of the Purple Dragon by Caroline Wilkinson
21. Rara Mendut by Y.B Mangunwijaya
22. Harry and the Wrinklies by Alan Temperley
23. The Lovely Bones by Alice Sebold
24. Marcy's Problem at School by Paula Danziger
25. The Wednesday Letters by Jason F. Wright
26. Insiden Anjing TMYBP by Mark Haddon
27. Spot of Bother by Mark Haddon
28. The Book of Lost Things by John Connolly
29. Keluarga Mullerbin by Astrid Lingdren
30. Karlsson si Manusia Atap by Astrid Lingdren
31. Pippi si Kaus Panjang by Astrid Lingdren
32. The Ways to Live Forever by Sally Nichols
33. Chicken Soup for The Woman Soul by Jack Canfield
34. Can't You keep the Secret? by Sophie Kinsella
35. Children of the Lamp by P.B Kerr
36. The Blue Djin of Babylon by P.B Kerr
37. The Alchemyst by Michael Scott
38. The Old Man and Sea by Ernest Hemingway
39. Sun Rising by Michael Chrichton
40. Night in Rodanthe by Nicholas Spark
41. A Walk to Remember by Nicholas Spark
42. Message in the Bottle by Nicholas Spark
43. The Notebook by Nicholas Spark
44. Chicken Soup for Couple soul by Jack Canfield
45. Hannibal By Thomas Harris
46. Red Dragon By Thomas Harris
47. The Silent of The Lamb By Thomas Harris
48. Jack si Pelompat by Phillip Pullman
49. Kafka of Shore by Haruki Murakami
50. Dengarlah Nyanyian Angin by Haruki Murakami
51. O Amuk Kapak by Sutardji Calzoum Bachri
52. 100 Puisi Indonesia Terbaik 2008 by Anugrah SPK
53. 20 Cerpen Indonesia Terbaik 2008 by Anugrah SPK
54. Cala Ibi by Nukila Amal
55. Namaku Grace aja by Charise Mericle Harper
56. Step on Crack by James Patterson
57. The Quickie by James Patterson & Michael L
58. Lolita by Vladimir Nabokov
59. Twilight by Stephenie Meyer
60. New Moon by Stephenie Meyer
61. Half of a Yellow Sun by Chimamanda Ngozi Adichie
62. Coraline by Neil Gaiman
63. Weedflower by Cynthia Kadohata
64. Embroideries by Marjane Satrapi
65. The Last Concubine by Lesley Downer
66. Chicken With Plumps by marjane Satrapi


NON FIKSI
1. Makan, Doa, Cinta by Elizabeth Gilbert
2. Blessing in Disguise by Dr.Khalid Umar al-Disuqi
3. Instant Make-up by Gusnaldi
4. La Tahzan by DR. Aidh al Qarni
5. The Secret by Rhonda Byrne
6. Psikologi Suami-istri by DR.Thariq An-Nu'aimi
7. The 7 Laws of Happiness by Arvan Pradiansyah
8. Three Cups of Tea by Greg Mortenson & David O.R
9. International Bridal Make-up by May-May
10. Beauty Encyclopedia by Enigma
11. Quantum Writing by Hernowo
12. Kiat Sukses Menyelenggarakan perkawinan Adat Sunda by ArtatiAgoes
13. Buku Pintar menyunting Naskah by Pamusuk Eneste
14. Alirkan Jati Dirimu by Natalie Goldberg
15. Andaikan Buku Sepotong Pizza by Hernowo
16. Meramu Kisah Dramatis by William Noble
17. Mencipta Sosok Fiktif by Orson Scott Card


BUKU MOGOK
1. Bilangan Fu by Ayu Utami
2. The Face of Another by Kobo Abe
3. A Wedding in December by Anita Shreve
4. Gerhana Kembar by Clara Ng


YANG LAGI DIBACA SISA 2008
1. Honeymoon with my Brother by Franz Wisner
2. Jonathan Strange & Mr Norrel by Susanna Clarke
3. Anne of green Gables by L.M Montgomery
4. Burung-Burung Manyar by Y.B Mangunwijaya

Selain buku-buku diatas ada beberapa buku dan komik yang aku sewa atau dipinjamin teman , lalu majalah-majalah yang berhubungan dengan Kecantikan dan Wedding. Juga ada beberapa buku anak yang aku baca ulang seperti buku-buku Astrid Lindgren, Jacqueline Wilson dan Lois Lowry (Anastasya krupuk…hihi..)
Jadi kalau ditotal, lebih kurang aku baca 100-an buku  dan me-review 40 buku tahun ini.


TUMPUKAN DOSA
Jumlahnya banyakkk...., lebih dari 40-an, dosa terbesarku**  7 buah buku Harry Potter dan Trilogi TLOTR....*hareee geneeee, belum baca ?

RESOLUSI BUKU 2009
Aku akan mencicil dosa terbesarku**, satu buku/bulan

Hanya akan membaca satu buku pada satu kesempatan (baca dulu satu sampai tamat,   baru pindah ke buku lain>

• Menghabiskan tumpukan dosa,

• Mengurangi jatah untuk beli buku


BUKU-BUKU YANG BERKESAN

gak boleh protess…karena ini sangat personal dan seperti biasa…selera emak-emak, ini juga acak, bukan berdasarkan peringkat


1.Half of a Yellow Sun
by Chimamanda Ngozi Adichie , perpaduan keren antara sejarah     dan fiksi.


2. Out by Natsuo Kirino, buku ini membuat nafasku sesak sampai kebawa mimpi.


3. The Lovely Bones by Alice Sebold, aku larut dalam buku ini, kisah yg tragis namun     membuatku merenungkan hubungan yg manis antara ayah dan anak gadisnya.

4. Embroideries by Marjane Satrapi, Nah, kalo buku ini benar-benar membuatku     ngakak…kocak abizz

5. Three Cups of Tea by Greg M & David O.R, menurutku ini memoir yg keren, seorang     Greg Mortenson berhasil melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi anak-anak Pakistan

6. Makan, Doa, Cinta by Elizabeth Gilbert, Masih memoir, kisah seorang wanita yang berani    mengambil keputusan besar untuk mengubah hidupnya.

7. Harry and the Wrinkliesby Alan Temperley, Ini buku anak yang asyikkk…

Tahun ini aku banyak dapat "buntelan " (baca:buku gratis) selain karena beberapa kali memenangkan hadiah meresensi buku—seperti resensi buku Rara Mendut dan Twilight yang diadakan Gramedia—aku juga dapat banyak kiriman dari teman-teman "KUBUGIL and Friends"

Bagi yang mau ngirim BUNTELAN *tuing-tuing* belum terlambat kok, tanggal 25 Desember kemaren aku berulang tahun yang ke…..TIGA PULUH LIMA TAHUN…
(itu menurut KTP, lho…aslinya sih..teteepppp 23 tahun)
jadi jangan sungkan-sungkan ya…selain buku aku juga menerima cek, wessel dan kartu kredit..*GR.. abisss*

So..Selamat tahun Baru Temans…
Semoga tahun ini menjadi tahun yang lebih baik bagi kita semua
Yang jomblo segera menikah dan menghubung ibu dempul…
Yang gajinya nggak naik-naik segera mendapatkan promosi dan naik gaji
Yang lagi sakit semoga dikuatkan dan segera sembuh
Yang belum punya bayi terus berusaha dan segera diberi momongan
Yang punya banyak hutang cepat-cepat lunasin dan gunting tuh..kartu kredit !!
Yang berbisnis semoga banyak orderan dan laris manizz…
Wish You All the best, MY FRIENDS…
Dan yang pasti TERUS MEMBACA….
Karena….hanya orang-orang KEREN yang MENCINTAI BUKU


Salam Hangat,
-echy-

Posted at 03:18 pm by Echy NS
Make a comment  

Saturday, December 06, 2008
Weedflower-Bunga Liar

ijjn0832big

Penerjemah: Lanny Murtihardjana
Penerbit: GPU, Oktober 2008
Tebal: 272 halaman

"SEPERTI INILAH RASANYA KESEPIAN: Seakan-akan semua orang menatapmu…" Begitulah kalimat pembuka kisah berlatar belakang peristiwa Pearl Harbor ini. Bercerita tentang kisah hidup seorang gadis keturunan Jepang berusia 12 tahun bernama Sumiko. Ia dibesarkan disebuah perkebunan bunga di California.

Suatu hari Sumiko pulang sekolah dengan gembira karena menerima undangan pesta teman sekelasnya. Bagi gadis lain seusianya, menerima undangan ulang tahun bukanlah hal yang luar biasa, tapi tidak bagi Sumiko, Ia yang terbiasa diejek dan dipandang penuh curiga karena menjadi satu-satunya gadis Jepang di kelasnya, menganggap hal ini peristiwa luar biasa. Ia mengabarkan berita tersebut pada seisi rumah.

Semenjak kematian orang tuanya, Sumiko dan adiknya Tak-Tak (6 th) tinggal bersama kakeknya "Jiichan", paman, bibi dan kedua sepupunya--Ichiro dan Bul. Mereka mengurus perkebunan bunga liar—kusabana. Untuk menghadiri undangan pesta tersebut Sumiko mempersiapkan segalanya, ia memikirkan gaun yang akan ia kenakan, kado yang akan dibawa, dan membayangkan suasana pesta yang akan dihadirinya, Ia pun diantar paman dan kakeknya. Sumiko tak menyangka luapan kegembiraannya akan berahir dengan kekecewaan. lalu kejadian di pesta membuat Sumiko merasa malu dan terhina, hingga menurutnya hidupnya takkan sama lagi. Ia merasa dirinya adalah Sumiko yang terhina (h.48)

Tak lama berselang tersebarlah kabar Jepang telah mengebom Hawaii, perang telah meletus, kehidupan "damai" mereka buyar sudah. Orang-orang Amerika mencurigai para Nikkei—semua keturunan Jepang, termasuk mereka yang lahir di Amerika Serikat seperti Sumiko. Mereka dipaksa menjual rumah serta semua hartanya, kemudian mereka ditampung di kamp tahanan sementara.

Dari kamp tahanan tersebut, mereka dipindahkan ke kamp tahanan lainnya di salah satu padang gurun terpanas di Amerika. Panasnya cuaca, lingkungan kamp yang membosankan membuat Sumiko merindukan kebun bunganya, perasaan jemu benar-benar membuatnya takut.

Selama dalam kamp konsentrasi, banyak konflik yang terjadi, sepupunya harus ikut wajib militer, bibinya ingin bekerja diluar kamp, Paman dan kakeknya menderita kedinginan karena ditahan kamp yang berbeda.Sumiko berjuang keras melawan rasa jenuhnya dengan "menciptakan" kebun bunganya di gurun yang tandus bersama Mr. Moto, Sementara terus Tak-Tak terus menghawatirkan apakah mereka akan mati ditembak. Sampai dengan Sumoko berteman dengan seorang Indian bernama Frank.

Cynthia Kadohata mengungkapkan dampak pengeboman Pearl Harbor bagi keluarga Sumoko (baca: warga Jepang di Amerika). Kisah yang indah tentang kekuatan saling mengisi dalam sebuah keluarga, aku suka bagaimana Ichiro dan Bull melindungi sepupunya Sumoko dan Tak-Tak, sehingga merasa mereka bukanlah yatim piatu dan memilki keluarga yang sebenarnya. Lalu tindakan Sumoko menyumbangkan uang 6 dollarnya untuk dikirim pada Jiichan dan pamannya. Sumoko juga menghibur Bull yang akan menjalani wajib militer dengan cara berjanji akan mengiriminya surat dan majalah, sangat menyentuh.



-echy-
yang berusaha mencari karya Kadohata yang lain.


Posted at 10:32 am by Echy NS
Comments (2)  

Next Page