
penulis:Chimamanda Ngozi Adichie
Penerbit: Harper Perrenial, First edition 2007
Tebal: 433.p
Pada awalnya aku bertanya-tanya apa makna dari "Half of a Yellow Sun" yang menjadi judul dari buku super keren ini, pertanyaan itu akhirnya terjawab sudah, yang ternyata mengarah pada gambar setengah matahari berwarna kuning yang terdapat pada bendera Biafra.
Half of a Yellow Sun bercerita tentang kehidupan dua wanita kembar tidak identik yang terlahir dari orang tua pengusaha kaya di Lagos, Nigeria. Bersetting tahun 1960 saat Nigeria terbebas dari penjajahan kolonial Inggris.
Kedua saudara kembar ini bernama Olanna dan Kainene, lulusan universitas di London Inggris. Setelah menyelesaikan kulianya Olanna memilih meninggalkan segala kemewahan di Lagos untuk menjadi seorang instruktur di depatemen sosiologi di Nsukka, sementara Kainene lebih memilih untuk mengurus perusahaan keluarga. Ia melakukan negosiasi dan banyak hal lain atas nama perusahaan ayahnya.
Olanna tinggal bersama kekasihnya seorang professor bernama Odenigbo. Saudara kembarnya—Kainene—biasa memanggilnya kekasihnya dengan sebutan "revolutionary lovers." Hubungan ini tidak disetujui oleh ibu sang professor. Ibunya tidak menyukai wanita yang terlalu pintar dan menganggap aneh ibu Olanna yang tidak mau menyusui kedua putrinya karena takut akan merusak payudaranya "What women brings another person to breasfeed her own children when she herself is alive and well ?" (p.98)
Ibu Odenigbo berusaha mengacaukan hubungan anaknya dengan cara membawa gadis desa untuk menggoda putranya. Odenigbo masuk perangkap ibunya.
Sementara itu Kainene mempunyai kekasih berkebangsaan Inggris bernama Richard, ia mengakuberprofesi sebagai penulis. Richard melakukan kesalahan yang sama dengan Odenigbo, ia membuat Kainene kecewa, mengakibatkan hubungan Olannna dan kainene semakin meruncing.
Kainene dan Olanna digambarkan sebagai wanita yang cerdas, tegas, dan berani mempertahankan apa yang mereka percayai, walau demikian Kainene lebih menonjol dan dominan, Ia sedikit sompral dan cendrung sarkastis. Mereka bukanlah sepasang saudara kembar yang rukun.
Pada tahun 1967 pecah perang saudara antara suku Hausa dan Fulani di Nigeria utara menghadapi suku Igbo dan berbagai suku lain di Nigeria Selatan. Pemberontakan ini dipicu oleh tindakan penguasa yang korup dan kurang manguasai jalannya pemerintahan. Yang kemudian memproklamirkan diri menjadi Negara Biafra.
Lalu sinilah kisah yang sebenarnya dimulai, dilatarbelakangi perang saudara yang berkecamuk, kedua saudara kembar ini bersama pasangan masing-masing melaui masa perang yang sulit. Olanna dan Odenigbo mengungsi ke rumah ibu Odenigbo dan kemudian harus pindah lagi ke rumah yang lebih kecil sampai akhirnya tinggal di sebuah kamar sempit bersama seorang pelayan dan putri mereka. Sebagai sepasang suami istri terpelajar, yang biasa hidup nyaman dengan fasilitas dan pergaulan kelas atas kini harus beradaptasi dengan lingkungan kumuh kelas bawah. Beratnya kehidupan saat itu menguji kesetiaan dan cinta mereka.
Sementara itu Kainene yang sebelumnya masih mendapat orderan dalam bisnisnya mulai merasakan dampak perang terhadap bisnisnya. Ia kemudian berinisyatif mengurus kamp pengungsi, sedangkan Richard mulai menulis berbagai artikel tentang situasi perang yang ia saksikan sebagai "orang luar" yang kebetulan berada di wilayah konflik.
Selain tokoh-tokoh diatas, masih terdapat satu karakter yang merupakan tokoh pembuka novel ini, Ia adalah Ugwu, pelayan setia Olanna dan Odenigbo: bocah lelaki berumur 13 tahun, berasal dari desa yang masih mempercayai hal-hal gaib. Ugwu adalah sosok anak lelaki yang selalu ingin tahu dan mau belajar, kepalanya dipenuhi pikiran-pikiran khas remaja lelaki yg sedang puber, Ia sering membayangkan gadis-gadis yang ia idamkan secara fisik. Kemudian Ia mengalami pertarungan batin yang hebat dikala harus menghapus kesalahannya dimasa lalu. Ugwu sangat mengidolakan tuannya—Odenigbo—yang pintar.
Novel ini memiliki kisah yang komplek, Adichie yang saat perang terjadi belum lahir dengan berani menggambarkan—bahkan dengan sangat detail—berbagai situasi yang dialami para tokoh, seperti saat kejadian Olanna terjebak di Lagos saat harus pulang ke Nsukka menumpang sebuah kereta api berisi penuh muatan manusia. Olanna melihat seorang ibu yang menyimpan...
"Olanna look into the bowl. She saw the little girl's head with the open ashy-grey skin and the plaited hair and rolled- back eyes and open mouth. She stared at it for a while before she looked away.somebody screamed" (p.149)
Lalu saat Richard berada di airport dan melihat seorang petugas bandara yg baru saja berbicara dengannya, ditembak persis di hadapannya…
"Richard willed him to say the words, anyway, to try: he willed something, anything, to happen in stifling silence and if in answer to his thoughts, the rifle went off and Nnaemeka's chest blew open, a splattering red mass, and Richard dropped the note in his hand." (p.153)
Pada momen-momen seperti ini Adichie sangat piawai menggambarkan kerapuhan hati manusia, bahwa manusia adalah makhluk yang lemah, mudah terluka, mudah terprofokasi, manusia melakukan apa saja dalam keadaan lapar dan nafsu amarah. Kemudian dilain waktu mencoba mengobatinya dengan cara melakukan kesalahan lain tanpa sadar dan kemudian menyesalinya.
Selama dalam situasi perang , para penduduk kesulitan mendapatkan makanan, pakaian, bahan bakar bahkan sabun dan garam. Suasana mencekam terasa dimana-mana, pembantaian, pemerkosaan, penjarahan, orang-orang takut bertemu tentara. Anak-anak menderita Kwashiorkor—gangguan gizi akibat kekurangan protein yang mengakibatkan perut buncit, rambutnya menipis, anemia, diare, wajah membulat dan sembab.
Para pengungsi bermukim di tempat penampungan sementara yang minim sarana sehingga penyakit kulit dan penyakit lainnya merajalela,kematian di kamp pengungsian tak dapat dihindari. Sementara yang bertahan hidup menderita kelaparan dan dilanda perasaan was-was, para wanita takut diperkosa, karena disetiap kesempatan ada saja pihak-pihak yang mengambil kesempatan dalam kesempitan, belum lagi serangan bom dari udara yang bisa datang kapan saja.
Buku ini memorak-porandakan perasaanku, aku yang duduk manis, ditengah hangatnya suasana rumah—saat di luar hujan lebat—membaca lembar demi lembar dengan rakus, merasakan sebuah sensasi aneh yang dulu pernah kurasakan saat membaca "The Kite Runner-nya Khaleed khosaeni. Perasaan geram, hingga membuat dadaku terasa sesak, Rasa-rasanya aku tak mampu membayangkan mereka yang pernah mengalami secara langsung saat-saat sulit dan mencekamnya suasana perang, merasakan kepedihan disaat harus kehilangan sahabat dan anggota keluarga.
Sebagai kisah yang bersetting sejarah Adichie mengemasnya dengan kejujuran yang mengagumkan. Ia berhasil melakukannya, membuat nafasku berdegup kencang, dan berurai air mata. Kisah tragis perang saudara dan pertikaian ras yang menelan banyak nyawa dibalut kisah cinta, pengorbanan dan penghianatan. Tak heran jika novel keduanya ini meraih Orange Broadband prize for fiction 2007, sebuah penghargaan yang diberikan oleh lembaga sastra dari Inggris untuk keaslian cerita fiksi yang ditulis oleh penulis wanita di seluruh dunia. She deservedly so.
Chimamanda Ngozi Adichie lahir pada 15 September 1977 dan dibesarkan di Nigeria. Lulusan Johns Hopkins University Connecticut ini telah menerbitkan novel pertamanya yang berjudul "The Purple Hibiscus" pada tahun 2003, buku ini berhasil masuk daftar peraih Orange Broadband prize for fiction 2004 dan dijuluki sebagai "Buku Tahun Ini" oleh San Fransisco Chronicle.
Edisi bahasa Indonesia buku ini telah diterbitkan oleh Penerbit Hikmah Cetakan I, Agustus 2008 dengan ketebalan 761 halaman diterjemahkan oleh Rika Iffati.
-echy-
Yang menunggu dengan sabar kiriman hadiah dari kobo *gr.com