Penerjemah: Maria M. Lubis
Penerbit: Qanita
Cetakan: I, 2008
Tebal: 516 hlm
Sudah lama sekali mendengar tentang buku ini, dan berhasil memilikinya sekitar 3 bulan yang lalu, aku mendapatkan dua edisinya: Anne of Green Gables dan Anne of Avonlea dari Nadya yang sedang mengobral koleksi buku2nya. Kedua buku ini terbitan Bloomsbury Books 1994. Sayang karena berbagai kesibukan dan begitu banyaknya buku lain menggoda, aku baru sempat membaca setengan dari buku yang penjualannya melampaui Harry Potter, To Kill a Mockingbird dan Gone ith the Wind ini.
Sampai Desember lalu saat aku melihat terjemahan buku ini disebuah toko buku, sempat terlintas, apakah aku harus memiliki edisi Indonesianya? Tak lama kemudian pertanyaanku pun terjawab, Aku mendapatkan kado ulang tahun berupa buku ini langsung dari penerjemahnya…yup..tante M. Itu lho…Maria M. Lubis. Ooh senangnya… (peyuk-peyuk Umayyy..yang lagi ndut )
Sebagai pembuka aku akan mengatakan buku ini masuk dalam kategori buku klasik yang memesona. Sebuah buku klasik yang layak koleksi dan tidak akan pernah menyesal untuk dibaca berulang-ulang. Tak akan lekang oleh waktu dan dengan bangga akan kuwariskan pada anak cucu.
Green Gables adalah rumah milik kakak beradik Cuthbert, Marilla dan Matthew . Mereka berprofesi sebagai petani yang memiliki lahan pertanian yang dikelola sendiri. Seiring dengan pertambahan usia mereka yang semakin tua mereka memutuskan untuk mengadopsi seorang anak lelaki untuk membantu dan menemani mereka.
Matthew kemudian pergi ke kota untuk menjemput anak lelaki yang akan mereka adopsi. Namun sebuah kesalahan telah terjadi. Setibanya di stasiun, alih-alih menemukan anak lelaki, Matthew malah menemukan seorang anak perempuan berumur 11 tahun bernama Anne, ia adalah “anak lelaki” yang dijanjikan oleh panti asuhan. Matthew yang pemalu dan pendiam tidak tega untuk mengungkapkan bahwa ia tidak mengharapkan anak perempuan. Ia pun membawa Anne pulang dan berpikir untuk menyampaikan kekeliruan ini nanti di rumah bersama Marilla.
Marilla tidak kalah terkejutnya saat melihat Anne, ia tak habis pikir, kenapa seorang gadis berbaju kumal dengan rambut merah yang datang? Bukannya seorang anak lelaki yang bisa membantu Matthew di ladang.
Anne sendiri sangat bahagia dengan rencana adopsi yang akan dilakukan Matthew dan Marila, Ia sama sekali tidak membayangkan bahwa kehadirannya samasekali tidak diinginkan. Perilaku Anne yang riang, banyak bicara, suka berhayal dan berjiwa romantis membuat Matthew jatuh hati. Ia bersikeras agar Anne tetap tinggal di Green Gables, dan ia akan mencari anak lelaki yang lain. Marilla yang sempat akan memulangkan Anne pun mengalah dan berubah pikiran. Sebuah keputusan yang nantinya akan sangat Ia syukuri.
Sebagai yatim piatu yang pernah tinggal bersama beberapa keluarga, menjadi pengasuh anak dan kemudian tinggal di panti asuhan, membuat Anne sangat senang memasuki lingkungan baru, diusianya yang baru 11 tahun, ia telah memiliki mimpi-mimpi dan kemampuan berimajinasi yang sangat besar. Ia selalu sadar mata akan dunia sekelilingnya, pemandangan yang indah, cuaca yang cerah, harum bunga, riak air danau, semua menjadi perhatiananya, tidak hanya itu, ia pun memberi nama setiap tempat yang ia sukai, Kanopi Kekasih, Danau Air Riak Berkilau, Ratu Salju dll. (dua jempol buat penerjemahnya)
Namun daya imajinasi yang tinggi dan rasa romantismenya yang menonjol membuat Anne menjadi terlihat terlalu dewasa untuk usianya. Hal ini terkadang mengganggu Marilla dan juga para tetangga di Avonlea. Tapi Anne berhasil meluluhkan hati warga Avonlea hingga jatuh hati padanya.
Lucy Montgomery sang pengarang berhasil menciptakan seorang tokoh yang sangat hidup, aku tak perlu membayangkan seorang anak gadis berumur 11 tahun yang suka mengoceh tak henti , aku merasa Anne benar-benar nyata dan “sedikit kesal” karena ocehannya yang membuatku ngakak dan geleng kepala. (perasaan ini juga dipengaruhi oleh seorang anak di rumahku yang baru saru saja ultah ke 12 tahun yang senang sekali mengoceh tanpa henti sampai akhirnya berhenti jika ku bilang……cukup…cukup…cukup untuk malam ini..) :-P
Anne berhasil merebut perhatian dua bersaudara Cuthbert, tapi bukan Anne namanya jika tidak membuat masalah, ia sempat ribut dengan tetangganya Mrs. Lynde, membuat mabuk sahabat baiknya Diana Barry, bertengkar dengan teman sekelasnya Gilbert Blythe, memasukkan minyak kayu putih ke dalam adonan kue, hampir tenggelam di sungai, jatuh dari genteng dan banyak lagi kelakuan Anne yang konyol dan memusingkan yang justru menghibur. Tapi tidak hanya itu, selain kekonyolan yang ia lakukan Anne adalah anak yang suka menolong dan selalu belajar dari kesalahan.
Anne of Green Gables terbit pertama kali pada tahun 1908 merupakan buku pertama yang kemudian disusul 7 buku lainnya. Semoga Qanita menerbitkan buku-buku Lucy M. Montgomery lainnya. Lucy lahir di Clifton (sekarang New London) pada 30 November 1874. Pengalaman hidupnyalah yang memberinya inspirasi menulis Anne of Green Gables.
Membaca buku-buku semacam ini membuat membaca menjadi kegiatan yang mewah dan benar-benar menyenangkan. 5 Bintang untuk Anne of Green gables, untuk kategori buku anak/remaja, buku ini aku sejajarkan dengan buku-buku Astrid Lindgren, dan berhak masuk dalam jajaran buku-buku favoritku yang lain, The Count of Monte Cristo, To Kill a Mocking Bird, Memoir of Geisha, Life of Pi, The Kite Runner, Tuesday with Morrie, Les Miserables. Omg..banyak sekali buku bagus di luar sana.. :-D
-echy-
yang lagi baca The Book Thief