The Book Thief
by Markus Zusak
First Knopf trade paperback edition
September 2007
550.p
Kisah ini dituturkan oleh “malaikat pencabut nyawa” (titik)
Berlatar belakang Perang Dunia pada awal tahun 1939 di German (titik)
Suatu masa dimana Nazi sedang berkuasa(titik)
Stoppppppp…!!!!
Ada perang? Hitler? Jew?
Lalu dinarasikan oleh orang yang sudah mati?
Sepertinya terlalu berat untuk buku dengan label young adult..(woot)
Upppsss…sabarrr…jangan tertipu.. ini adalah kisah tentang perjuangan hidup seorang anak berumur 9 tahun bernama Liesel Meminger, yatim, buta huruf, tinggal dengan orang tua angkat, belajar membaca, hingga jatuh cinta pada kata-kata, rela mencuri buku untuk menghapus dahaga membacanya.
“You hungry”? Rudy asked.
Liesel replied. “Starving” for a book (p.287)
It’s a shame you can’t eat books (p.291)
The Book Thief bercerita tentang keberanian, persahabatan, cinta, kasih sayang, kesedihan dan kematian. Buku ini akan menjadi salah satu buku terbaik yang kubaca tahun ini…5 bintang dariku.
trust me…;)
Baiklah..
Liesel bersama ibu dan adiknya sedang dalam perjalanan menuju rumah calon orang tua angkatnya. Dalam perjalanan itu, adik lelakinya menghembuskan nafas terahirnya, adiknya meninggal dunia dalam keadaan lapar dan kedinginan, terbujur kaku disebuah gerbong kereta api yang sedang meluncur.
Setelah pemakaman adiknya yang berlangsung ditengah derasnya salju, Liesel menemukan sebuah buku berjudul “The Grave diggers Handbook” Ia memungut buku tersebut dan melanjutkan perjalanan bersama ibunya.
Hans Hubermanns dan Rossa Hubermanns tinggal Himmel Street di Molching, mereka mengangkat Liesel menjadi anak angkat, Hans seorang tukang cat rumah yang bisa memainkan accordion, sedangkan Rossa mencuci pakaian bagi orang-orang kalangan atas.
Walau hidup Liesel jauh lebih nyaman dibanding dengan sebelumnya, namun kenangan akan ibunya, ayah kandung yang tak pernah ia ketahui, hingga kenangan akan kematian adiknya selalu menghantui tidur malamnya, Ia sering terjaga sambil berteriak hingga ayahnya terbangun dan menemaninya, disinilah awal ia menunjukkan buku pertamanya, lalu Hans mengajarinya membaca.
Liesel mulai menjalani hidup “normal” . Ia membantu sang ibu disiang hari, bermain dengan Rudy sahabatnya, lalu belajar membaca dengan ayahnya pada malam hari.
Sampai pada suatu hari ketika ayahnya kedatangan seorang tamu bernama Max, seorang Jew, putra dari sahabatnya yang dulu mengajarkan Hans bermain accordion mereka sama-sama tergabung dalam satu pasukan saat Perang Dunia I. Ia pernah berjanji akan membatu sahabatnya itu jika Ia membutuhkan sesuatu, sampai akhirnya Max muncul di rumahnya meminta perlindungan. Hans adalah seorang German yang tidak membenci Jew, walau saat itu ia menyadari resiko besar yang akan ia tanggung.
Kedatangan Max, melengkapi konflik dari keseluruhan cerita ini, Zusak dengan keahliannya merajut kata, membangun karaktek setiap tokoh, Hans yang sabar dan baik hati, Rossa yang sompral namun berhati lembut, Rudy yang nakal dan pemberani, Max yang lemah dan tak berdaya namun penuh kasih terhadap Liesel, Narator gentayangan yang suka membocorkan akhir cerita dan tentu saja…Liesel yang sangat hidup: bermain bola bersama Rudy, mencuri buku di rumah istri sang Mayor, menyampaikan laporan cuaca pada max, menghibur para pengungsi di tempat perlindungan saat bom berjatuhan.
Ada lagi kisah persahabatan yang manis antara Rudy dan Liesel, perjuangan Hans, Rossa dan Liesel melindungi Max, kemauan Liesel yang besar untuk mendapatkan buku sampai derita para tetangga dalam melawan rasa takut mereka, ditambah kekhawatiran akan ancaman diambilnya anak lelaki mereka oleh tentara Hitler, dan tentu saja, derita seorang Max….
Bagiku, buku bagus adalah buku yang bisa “menghantuiku”, buku yang tokohnya membuatku menangis dan tertawa, buku yang membuatku tak mau berhenti membalik halaman berikutnya, buku yang kalimat-kalimatnya membuatku berpikir dan menikmati setiap kata-katanya yang indah.. buku yang isinya sampai terbawa ke dalam mimpi.
(it’s kind of weird..in my dream,.. Hans ate Liesel ..*doh*)
Terahir…banyak kalimat narator yang menurutku sangat menyentuh, disela-sela kisahnya, Ia seolah ingin menumpahkan kekesalannya akan perang yang membuat pekerjaannya tiada habis-habisnya:
“I was still getting over Stalin in Rusia…”
Then came Hitler...
They say that war is death’s best friend, but I must offer you a different point of you on that one. To me, war is like the new boss who expects the impossible…..”get it done, get it done.”
So you work harder… The boss, however, does not thank you. He ask for more…(p.309)
Even death has a heart…..(p.242)
Buku ini merupakan awal perkenalanku yang sangat berkesan dengan seorang Markus Zusak. The Book Thief menjadi bestseller versi New York Times dan USA Today, meraih banyak penghargaan yang salah satu diantaranya “Winner of the Book Sense Book of the Year Award for Children’s Litetartur” Beberapa karya Zusak lainnya adalah Getting the Girl, Fighting Ruben Wolfe, dan I’m the Messenger yang meraih a Michael L. Printz Honor Book Award.
Markus Zusak kini tinggal di Sydney Australia bersama istri dan putrinya.
-echy-
yang ternyata punya beberapa draft review *menunggu untuk diedit*