about me :
Hi, just call me Echy.
Mother of two .
Please, enjoy the 'books' and leave your footprints..
My Favorite books :
The Count of Monte Cristo, Memoir of Geisha, The alchemist, Tuesday with Morrie, Life of Pi, To Kill a Mockingbird, Les Misserables, The Kite Runner, Ronggeng Dukuh Paruk, Biola Tak Berdawai.
more about me : Echy at Multiply Echy at Goodreads
"So many books, so little time"." — Frank Zappa
"Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian."(Pramoedya Ananta Toer) "
“Siapa pun yang membaca banyak buku, punya mata di berbagai tempat yang unik." — Jostein Garder
mY fRiEnD's bOoK'S:
* P E R C A
* J O D Y
* F E R I N A
* A L L Y
* N AT N A T
*NAJLAZEA
* K O B O
* Rahib TANZIL
|
|
|
 |
|
Thursday, October 30, 2008

Judul : The 7 Laws of Happiness Penulis : Arvan Pradiansyah Penyunting Naskah: Budhyastuti R.H Penerbit : Kaifa, September 2008 Tebal: 428 hal
Mengontrol Pikiran Meraih Kunci Kebahagiaan
Banyak yang mendefinisikan kebahagian identik dengan kesenangan dan kesuksesan. Namun faktanya tidak sedikit yang bergelimang harta dan meraih popularitas malah depresi alih-alih merasa bahagia. "Ketika memillih kesenangan dan menganggapnya sebagai kebahagiaan kita sudah bejalan kearah yang berbeda dengan jalan kebahagiaan". Karena ternyata kebahagiaan dan kesenangan adalah dua hal yang berlawanan. (hal.25)
Ternyata ada cara yang sangat sederhana untuk meraih kebahagiaan. Yang dibutuhkan hanya kemauan mengelola pikiran. Memilah yang akan digunakan dan membuang yang tidak bermanfaat. Untuk menjadi bahagia kita harus tegas menentukan pikiran macam apa yang layak bermukim dalam otak. Orang bijak mengatakan "You are what you think."
Kalimat tersebutlah yang menjadi cikal bakal buku terbaru karya Arvan Pradiansyah, The 7 Laws of Happpiness: Tujuh Rahasia Hidup yang Bahagia. Idenya cukup sederhana, agar bisa sukses dalam hidup yang harus dilakukan adalah memilih tindakan untuk mencapai kebahagiaan , memilih tindakan saja tidakklah cukup , agar bisa bahagia kita harus memilih pikiran.
Mengikuti arus kehidupan yang penuh dengan rutinitas sering membuat kita lupa apa tujuan hidup yang sebenarnya. Padatnya hari dan besarnya tuntutan pekerjaan membuat kita berpindah dari satu tugas ke tugas yang lain, dan dampaknya masalah sepele membuat suasana hati menjadi sangat buruk .
Buku ini semacam pelatihan untuk menumbuhkan kebahagiaan dengan cara memilih pikiran positif dan fokus pada pikiran tersebut. Pikiran dipengaruhi oleh asupan makanan yang dikonsumi otak sehari-hari. Apa yang dilihat, didengar, ditonton, bacaan yang dibaca, semua hal yang mempengaruhi pikiran.
Salah satu contoh yang dikemukakan oleh Arvan adalah tentang seseorang yang tiba-tiba menyalip kendaraan anda. Anda bisa saja mengejar orang itu dan memaki-makinya. Anda memilih tidak melakukannya, tetapi masih memendam marah. Memilih respons, ternyata, tidak serta merta membuat Anda bahagia.Namun Anda bisa memilih untuk berpikir bahwa sang penyalip mungkin sedang dalam kesulitan dan mendoakan agar sampai tujuan dengan selamat.
Kejadian diatas merupakan fakta dilapangan yang sering terjadi dan luput dari perhatian. Kita membiarkan kekesalan dan emosi menguasai diri, membiarkan pikiran negative menguasai pikiran positif dan membiarkan hal-hal buruk masuk tanpa permisi. Mungkin banyak diantara pembaca yang tidak sadar berapa banyak waktu terbuang didepan tv, menonton sinetron yang "mengajarkan" kekerasan dan pornografi, menonton iklan yang menancapkan pemahaman untuk menjadi cantik haruslah berambut lurus dan berkulit putih, menyaksikan gossip selebriti yang kemudian membentuk opini bahwa kawin cerai adalah hal yang wajar. Kita menghabiskan banyak waktu dengan menonton, mendengar, membaca, dan membicarakan "sampah", sampah-sampah pikiran.
Arvan Pradiansyah lulusan FISIP UI yang kini menjadi Managing director Institut for Leadership & Life Management (ILM), sebuah lembaga pelatihan dan konsultasi di bidang sumber daya manusia (SDM) yang berpusat di Jakarta. Meraih gelar Master of Science dalam bidang Industrial Relations & Human Resources Management dari The London School of Economics (LSE), Inggris berkat beasiswa British Chevening Awards dari the British Council. Sebelumnya telah menulis 3 buku laris: You Are a Leader! (2003), Life is Beautiful (2004), dan Cherish Every Moment (2007) yang terpilih sebagai salah satu Buku Nonfiksi Terbaik versi KoranTempo Pada Desember 2007.
Dalam buku ini Arvan membagi the Seven Laws of Happiness menjadi 3 bagian, masing-masing bagian dijabarkan kembali menjadi 7 rahasia yang sarat dengan contoh kejadian sehari-hari, yang jika ditelaah lebih lanjut mudah-mudahan mampu menarik kita masuk kedalam rel kebahagiaan. Tiga yang pertama Intrapersonal Relation, terdiri dari patience (sabar), gratefulness (syukur), dan simplicity (sederhana, kemampuan menangkap esensi). Tiga yang kedua Interpersonal Relation, merupakan kebahagiaan terkait orang lain, terdiri dari love (kasih), giving (memberi), dan forgiving (memaafkan.) Sebagai penutup adalah Spiritual Relation, yaitu surrender (pasrah).
Patience (sabar ) merupakan salah satu dari 7 rahasia hidup bahagia yang patut untuk digaris bawahi. Terdapat 7 pemahaman baru tentang sabar. Menurut penulisnya, hal ini mampu merevisi cara pandang terhadap masalah yang dihadapi. Menunda Respon merupakan salah satu definisi sabar yang harus dilakoni, kemampuan menahan diri dalam menunda respon sangat bermanfaat dalam keadaan emosi. Hakikat dan inti kecerdasan emosi adalah kemampuan mengenali dan mengidentifikasi emosi begitu emosi tersebut muncul(hal.153).
Selain mampu menunda respon, Menyatukan Badan dan Pikiran di Satu Tempat merupakan definisi sabar yang kedua. Menjadi fokus merupakan persyaratan mutlak untuk senantiasa menikmati hidup. Anda hanya perlu "mengada", yaitu berada dalam setiap situasi dengan segenap jiwa dan raga. Tidak perlu menarik kejadian yang belum terjadi kemasa sekarang, atau menarik masa lalu ke masa kini. Masih terdapat 5 definisi sabar yang lain yang sejatinya layak untuk direnungkan.
Forgiving (memaafkan), hal ini bertentangan dengan karakter dasar manusia yang selalu ingin membalas perlakuan tak adil yang diterima. Ada mitos yang mengatakan bahwa memaafkan membuat orang terlihat lemah, atau memaafkan hanya perlu dilakukan jika ada yang meminta maaf. Ketidak mampuan memaafkan justru menunjukkan kebodohan. Dari sebuah penelitian oleh Gerald G. Jampolsky seorang dokter di Amerika Serikat menemukan bahwa begitu banyak penyakit yang bersumber dari ketidakmauan memaafkan orang lain. Beberapa diantaranya adalah: pusing, sakit perut, depresi, kurang energi, cemas , mudah sakit, dll. Dari penelitian tersebut kemudian Ia mendirikan healing centre dengan menggunakan metode tunggal yaitu rela memaafkan.
The Seven Laws of Happiness mencoba melatih pikiran, menyaringnya, membuang ampasnya sehingga yang tersisa hanyalah pikiran-pikiran yang sehat dan bergizi. Buku ini dilengkapi dengan berbagi quote yang diambil dari orang-orang ternama, mulai dari Laura Ingalls Wilder, Thomas Alfa Edison, Budda sampai nabi Muhammad SAW. Arvan juga berusaha agar bukunya mampu merangkul semua golongan dan agama. Hal ini terlihat jelas dari usahanya mengutip berbagai ajaran agama tentang kebahagiaan.
Walau sebelumnya telah menghasilkan 3 buah buku, Arvan merasa buku keempat ini adalah masterpiece-nya. Ide tentang The 7 Laws of Happiness ini muncul sejak akhir 2002, namun buku keempat dari penulis yang juga dikenal sebagai pembicara publik, host talk show, dan kolumnis ini baru selesai pada pertengahan 2008, walaupun demikian, pelatihan The Laws of Happiness telah mulai dilakukan pada beberapa perusahaan sejak awal 2006.
Tampilan buku setebal 428 halaman ini cukup sedap dipandang, dengan cover berwarna perpaduan gradasi hijau muda serta ukuran font yang memanjakan mata. Selayaknya mampu menggoda para pembacanya untuk berpetualang menemukan rahasia kebahagiaan. Sebagaimana yang ditulis Andy F.Noya dalam endorsement-nya "Orang yang berbahagia adalah mereka yang sudah menemukan lentera jiwa mereka. The 7 Laws of Happiness menuntun Anda menemukan lentera itu".
-echy- 26/10/2008
Posted at 07:37 am by echyart
Permalink
Friday, October 10, 2008
Garden of The Purple Dragon
Penulis : Carole Wilkinson Penerjemahkan : Claudia
Penyunting : Nadya Penerbit : Matahati, Mei 2008 Tebal : 422 hal
Ini kisah lanjutan dari Dragon Keeper, resensi buku pertama ini bisa dibaca disini http://echyart.multiply.com/reviews/item/20. Setelah ditinggal Danzi, Ping harus hidup mandiri untuk mengurus bayi naga ungu yang bernama Long Kai Duan, yang biasa dipanggil Kai. Setelah memiliki pengalaman bersama Danzi, Ping memeutuskan untuk tinggal di kolam naga hitam yang terletak di Pegunungan Tai Shan. Wilayah terlarang kekaisaran. Menurut Ping inilah area paling aman untuk mengurus dan membesarkan Kai.
Bayi Kai suka berenang dan memakan ikan-ikan di kolam, ia juga suka minum susu dan selalu merengek pada Ping jika ia kelaparan. Dan tak pernah lelah mengajak Ping bermain. Kai masih bayi, tapi Ping sudah kewalahan mengurusnya karena Kai tetaplah seekor naga yang memiliki tenaga besar dan cakar yang membuat Ping sering terluka.
Ping sendiri hidup sederhan dengan mengumpulkan makanan dari hutan, akar-akaran, jamur, ikan, memerah susu kambing dan mencari serangga untuk tambahan makanan Kai.
Walau tidak dibekali ilmu untuk mengurus bayi naga, Ping berusaha untuk mengurus Kai dengan baik, ia mulai berkomunikasi dan kemudian menyadari bahwa Ia juga bisa mendengar pikiran Kai seperti halnya ia mendengar pikiran Danzi.
Kehidupan tenang Ping dan Kai di hutan terlarang tidak berlangsung lama karena kemudian seseorang kembali mengusik kehidupan mereka—necromancer sang pemburu naga. Namun diluar dugaan ia malah diselamatkan dan kembali bertemu dengan tikus piaraannya yang bernama Hua.
Ping pun kembali berjuang melindungi Kai seperti yang dulu pernah ia lakukan saat bersama Danzi. Ia melakukan perjalanan namun akhirnya tertangkap oleh pengawal kerajaan. Dan kemudian tinggal di Istana kaisar dan kembali menduduki jabatan sebagai pengurus naga kekaisaran. Ping juga belajar menulis dan membaca pada Putri Yangxin – saudara Kaisar, yang selama ini selalu sedih dan menagis namun langsung tertawa begitu melihat Kai yang lucu .
Sang kaisar yang bernama Liu Che yang dulu sempat bersahabat dengan Ping membuatkan sebuah taman bernama Garden of the Purple Dragon sebagai wujud kebahagiaannya karena sang naga dan pengurusnya masih selamat. Sementara itu sang kaisar masih terus meneruskan obsesinya mencari ramuan awet muda bersama para penasihatnya Dewan Umur Panjang
Disela-sela mengurus Kai yang kini sangat dimanja oleh kaisar, Ping berusaha mencari keberadaan orang tuanya, ia berjuang untuk mengetahui silsilah keluarga dan mengakibatkan ia harus rela berpisah dengan Kai dan terpaksa membiarkan jabatannyanya sebagai pengurus naga direbut orang lain.
Dibalik ketenangan tembok istana Ping malah bertemu dengan musuh yang sebenarnya. Bahaya masih terus mengancam Kai sebagai naga terahir dan kedudukan Ping sebagai pengurus nagapun dipertaruhkan.
Kai sendiri digambarkan sangat lucu oleh Carole Wilkinson .Kai digambarkan sebagai naga kecil yang nakal, rakus, periang, keras kepala sekaligus menggemaskan bertolak belakang dengan penggambaran Danzi yang tua dan bijaksana.
Dalam berbagai percakapan antara Kai dan Ping mereka diibaratkan sebagai dua sahabat yang saling mengerti, walau terkadang mereka saling menggerutu karena kesal. ungkapan-ungkapan Kai sangat kekanak-kanankan (jika diibaratkan manusia) membuatku merasa geli saat membacanya. Kai juga memberi beberapa gelar pada orang-orang disekitarnya yang sering membuat Ping tertawa.
Ada sebuah kejadian saat Kai masuk kedalam vas yg telah berumur ratusan tahun dan ia terjebak di dalamnya. Saat itu Ping memarahinya dengan menyebutnya "Dasar naga bodoh" kemudian Ping menyuruh pelayan istana untuk mengeluarkan Kai dari vas tersebut dan Kai pun mengadu pada Ping.
"Celana kedodoran menyakiti hidung Kai" (hal.191)
hahahaha..ia menyebut pengawal istana itu si celana kedodoran.
Kita tunggu kelanjutannya di buku ketiga.
-echy-
Yang lagi mules
Posted at 12:41 pm by echyart
Permalink
Wednesday, October 08, 2008
The Curious Insiden of the Dog in the Night-Time
Judul Terjemahan: Insiden Anjing di Tengah Malam yang Bikin Penasaran Penerjemah: Hendarto Setiadi Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia (KPG), Cetakan III, April 2005 Tebal: 311 halaman
Pertama
Covernya..arrrggggg…berwarna shoking pink yang terlalu eye catching ..jueeelekkkk
Kedua..
Judulnya aneh…Insiden Anjing di Tengah Malam Yang Bikin Penasaran.
*oh tuhan..kenapa judulnya seperti itu ?*
Ketiga..
Kenapa babnya ngacak begini ? tidak ada bab 1, tetapi langsung 2, lalu 3, lalu 5, 7, 11, 13?
Keempat…
Lalu kenapa banyak angka ? table? grafik? Lalu….tunggu.. Persamaan matematika ? oww tidakkkk..ini novel atau textbook sih ? *sigh*
Kelima…
Kesimpulan sementara: buku yang aneh
Keenam..
dan aku tetap membelinya
Ketujuh
Membaca dan kemudian menulis reviewnya.
Kedelapan
aku suka Mark Haddon
Kesimpulan Ahir
*review yg aneh*
Ini buku kedua Mark Haddon yang kubaca setelah Spot of Bother thereview will coming soon
*nantikan penayangannya diblog ini*
Tokoh utama karya Mark Haddon kali ini bernama Christopher Boone, 15 tahun, penderita autistic spectrum disorder (ASD) sejenis autisme. Ia suka segala sesuatu yang teratur, terpola, dan rapi, ia suka warna merah, namun benci warna kuning, Ia mual berada di keramaian dan tidak suka dipeluk, bahkan oleh ibunya.
Walau menderita ASD, Cristopher memiliki kemampuan di atas rata-rata. Ia membaca buku-buku berat untuk anak seusianya, memiliki kemampuan khusus di bidang matematika, berpengetahuan luas, dan daya ingatnya luar biasa. Tak heran jika didalam buku ini ditemukan banyak persamaan matematika, grafik dan berbagai macam hitungan yang biasa Christopher lakukan jika ia dalam keadaan panic. Ia akan mengalihkan perhatian dengan cara memecahkan soal-soal persamaan bilangan kuadrat diluar kepala. Ia memikirkan berbagai kemungkinan dengan membuat persamaannya sambil memandang ke luar jendela busnya menuju sekolah. Christopher menghitung segala sesuatu melalui logika, Ia memandang dunia dari sudut pandangnya yang "sederhana", dan kita akan dibawa hanyut ke dalam pola pikir Christopher yang kaku dan hitam putih. Tak ada ruang abu-abu dalam kamusnya.
Kisah ini diawali ketika Christopher menemukan anjing tetangganya yang mati tertusuk sebuah sekop tanaman. Ia yang menyukai kisah-kisah Sherlock Homes kemudian memutuskan akan menelusuri jejak si pembunuh anjing tersebut, dan akan menuliskan kisahnya dalam "proyek menulis" yang dibantu oleh Siobhan guru/psikolog di sekolahnya. Ia menjadi detektif dengan cara menanyai para tetangga secara diam-diam. Hak ini dilakukan karena sang ayah melarangnya mencampuri urusan orang lain.
Dalam menelusuri jejak si pembunuh, Christopher yang baru saja kehilangan ibunya karena serangan jantung, menemukan fakta lain yang membuatnya semakin rapuh. Ia merasa dibohongi dan ia menutup diri, tidak mau bicara dan ahirnya meninggalkan ayahnya. Sementara ia belum pernah bepergian lebih jauh dari ujung jalan rumahnya.
Pada moment ini aku merasakan kepedihan hati seorang Christopher, seorang anak yg peka dan bingung memahami perilaku ibu, ayah serta serta lingkungan yg sering diluar logikanya.
Sejatinya manusia tetaplah manusia, tidak peduli ia seorang penderita autis, keterbelakangan mental, miskin, kaya, berwajah cantik atau buruk rupa. Siapapun…pasti ingin diperlakukan dengan layak.
Kutipan berikut diambil saat sang ayah dalam keadaan putus asa meminta maaf pada Christopher, yang menurutku sangat menyentuh.
Ayah berkata, "Kita semua pernah berbuat kesalahan, Christopher. Kau, ibumu, aku semua orang. Dan kadang-kadang kita berbuat kesalahan besar. Kita semua hanya manusia biasa. (hal.172)
Dibalik kekurangannya, Christopher adalah seorang pemikir dan pemerhati lingkungan yang teliti, ia melihat banyak hal detil yang mungkin oleh kita orang-orang normal dilewatkan begitu saja.
Diakhir buku terdapat catatan penerjemah yang akhirnya menjawab semua pertanyaaku diawal: kenapa pink? Kenapa judulnya begitu, kenapa oh..kenapa..?
Keseriusan penerjemah tergambar jelas dalam "Catatan Penterjemah"
Penerjemahnya Hendarto Setiadi, benar-benar berusaha masuk kedalam dunia Christopher. Ia bahkan merombak hasil terjemahannya setelah diskusi panjang tentang penderita Sindrom Asperger dengan ahlinya, sehingga berusaha mempertahankan kesalah ejaan penulisan, susunan kalimat untuk menonjolkan pola pikir seorang Cristopher.. Wow..keren !!
MARK HADDON adalah seorang penulis dan ilustrator dari beberapa buku anak . Ia mengajar penulisan kreatif pada yayasan Arvon dan Universitas Oxford . Bukunya yang terbaru berjudul Spot of Bother yang telah diterbitkan oleh Serambi pada april 2008. Ia kini tinggal Oxford Inggris .
_echy_
yang lagi maraton bikin review
Posted at 09:51 pm by echyart
Permalink
Tuesday, September 23, 2008

Penerjemah : Maggie Tiojakin
Editor : Ratih Kumala
Penerbit : Gagas Media Agustus 2008
Buku yang cantik, berwarna merah dengan bentuk amplop. Persis seperti sebuah undangan, sebuah amplop dengan ketebalan 336 halaman. Cover adalah daya tarik utama aku ingin membeli buku ini. Jadi nilailah buku melalui sampulnya.
Selain sampulnya yang menggoda, buku ini bergendre drama saudara-saudara, bukan pure romance. Kisah tentang sebuah keluarga, cinta yang tulus dan kerelaan untuk memaafkan.
Baiklah,
Kisah diawali dengan sepasang suami istri, Jack dan Laurel. Pasangan yang telah menikah selama 39 tahun ini mengelola sebuah penginapan bernama Domus Jefferson—Rumah Jefferson. Berlokasi di jantung lembah Shenandoah di negara bagian Virginia. Jack Cooprer yang berusia 71 tahun sedang berjuang melawan tumor otak
Pada suatu malam disaat kedua pasangan renta ini akan mengahiri hari mereka yang panjang di peraduan, Laurel mendapat serangan jantung, Jack yang mengetahui istrinya dalam keadaan kritis tak bisa berbuat apa-apa. Malam itu mereka hanya memiliki seorang tamu istimewa—Anna Belle-- yang pada saat itu sedang membawa kucing kesayangannya berjalan-jalan. Jack sempat menulis selembar surat saat mengetahui istrinya telah pergi. Kemudian Jack memeluk Laurel dan memejamkan mata. Mereka meninggalkan dunia dalam keadaan berpelukan.
Jack dan Laurel memiliki 3 orang putra, Matthew si sulung, Malcolm si “petualang” yang selalu ribut dengan ayahnya, dan si bungsu Samantha seorang polisi. Ketiga putra keluarga Cooper merasa shock dengan berita kepergian kedua orang tua meraka secara bersamaaan. Mereka mengira Jack-lah yang akan lebih dahulu berpulang.
Disaat persiapan pemakaman Jack dan Laurel, Anna Belle menemukan sebuah kardus yang penuh berisi surat-surat Jack untuk Laurel, yang kemudian meraka ketahui bahwa Jack selalu rutin menulis surat hari rabu untuk istrinya, yang dimulai sejak malam pernikahan meraka ( can you imagine that ? its so sweet .. )
Ketiga putra Jack dan Laurel mulai membaca surat-surat tersebut, diluar dugaan ada sebuah rahasia keluarga yang sangat memilukan. Rahasia besar yang ternyata disembunyikan oleh orang tua mereka. Dan rahasia itu kemudian terungkap melalui surat-surat Jack. Mereka bertiga menyadari bahwa kedua orang tua mereka telah tiada, melalui surat-surat tersebut mereka mendapati bahwa kedua orang tua meraka bukanlah orang tua yang sempurna, namun Jack dan Laurel berhati mulia, meraka orang-orang yang berani menerima kenyataan dan mau memaafkan.
Pada awalnya aku berpikir isi buku ini akan melulu dipenuhi oleh surat-surat Jack untuk Laurel, namun ternyata aku salah menduga, Jason F. Wright penulisnya dengan piawai membuat kisah ini tidak monoton dengan melulu menceritakan isi surat-surat Jack. Masing-masing anggota keluarga mempunyai problem masing-masing yang diungkapkan dengan lancar dan saling melengkapi keutuhan cerita. 4 bintang untuk The Wednesday Letter.
Jason F.Wright adalah pengarang buku bestseller berjudul Chrismast Jar. Bekerja sebagai konsultan dan menulis banyak artikel mengenai politik, budaya dan uu sosial. Ia juga mendirikan situs politik bernama PoliticalDerby.com dimana ia menjabat sebagi Managing Editor
Posted at 04:42 pm by echyart
Permalink
Sunday, September 07, 2008

Penerjemah: Purnawati Olsson Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama Tebal: 163 halaman
Aku menemukan buku ini di Gramedia Bsm. Terselip diantara buku-buku dewasa. Setelah mengubek-ubek dengan semangat ternyata memang tinggal satu-satunya, tanpa perlu berpikir buku ini langsung masuk kantong belanjaan.
Kisah dalam buku ini sempat membuat kami-- aku dan ananta-- tertawa geli sekaligus geram. Tanpa banyak komentar, inilah Karlsson si Manusia Atap, Astrid Lindgren gitu lohhh…
Keluarga Svantesson tinggal sebuah apartemen di Stockholm. Mr. Svantesson memiliki tiga orang anak. Mereka adalah Bosse, Bettan dan Lillebror.
Si bungsu Lillebror berumur 7 tahun (Ananta sempat berkomentar begini " sama dengan adek ya bu ?" dan Ia senang sekali karena mereka seumur hihi ). Lillebror bermata biru, berhidung mancung, bertelinga kotor serta mengenakan celana yang selalu sobek di bagian lutut (nah..kalau yg terahir ini, aku sudah melaluinya dengan selamat. Sebuah fase dimana Ananta merasa keren jika celananya sobek di area lutut.)
Si sulung Bosse berumur 15 tahun. Ia senang bermain bola dan malas ke sekolah. Bettan 14 tahun, seorang gadis abg yang mulai suka membawa teman laki-lakinya ke rumah, si bungsu Lillebror selalu mengganggu kehadiran teman-teman kakaknya . Begitu pula dengan Bosse dan Bettan, mereka suka menggoda adiknya dengan memanggilnya si anak bawang.
Tak ada yang istimewa dari keluarga ini. Sesuatu yang menarik justru berada di atas apartemen mereka, yaitu Karlson si Manusia Atap, Ia benar- benar tinggal di atap apartemen dimana Lillebror tinggal. Karlson bertubuh pendek, gendut dan bossy. Yang paling menarik ternyata Karlson memiliki baling-baling di punggungnya, yang jika dinyalakan akan berputar dan mengangkatnya terbang.
Pada suatu hari saat Lillebror sedang bosan berada di kamarnya, Ia melihat Karlsson terbang melintasi jendela kamar dan mereka pun berkenalan. Karlsson masuk ke kamar Lillebror sambil mengucapkan salam "Haisan Hopsan" dan mulai mengacak-acak mainan yang ada di kamar tersebut, bukan hanya itu, Karlsson juga meledakkan mainan kereta api milik Lillebror yang hanya boleh ia mainkan bersama ayahnya. Tanpa rasa bersalah Karlsson berkata " Aah..itu kan hanya barang duniawi yang tidak perlu dipermasalahkan". Selain bossy, Karlsson juga selalu mengaku yang ter….di dunia. Ia mengaku paling baik, masinis paling baik, pengasuh bayi paling baik, hantu terhebat, dst..
Sejak kenal dengan Karlsson, Lillebror yang pada awalnya sering merasa bosan dan jengkel karena ulah kedua kakaknya, mulai merasa terhibur. Ia merasa punya teman baru, ia sering bermain dan menunggu kehadiran Karlsson. Ia menuruti hampir semua keinginan Karlsson, Walaupun Karlsson sering menipu dan menimbulkan masalah. Namun sayangnya tak seorang pun anggota keluarga dan temannya yang percaya tetang kehadiran Karlsson si manusia atap ini. Semua orang menganggapnya Lillebror membual.
Seperti biasa Atrid Lindgren selalu piawai dalam menceritakan kehidupan anak-anak, hangat dan tidak jauh dari kejadian sehari-hari yang ringan. Ada beberapa bagian yang membuat Ananta (dan aku tentu saja ) tersenyum penuh arti. "Makanan yang tidak kusukai pasti bergizi tinggi. Aku benar-benar heran, kenapa sih semua vitamin harus dimasukkan ke dalam makanan yang tidak enak?" (hal.100)
Lalu saat Karlsson bertanya pada ibunya apakah ia harus menikahi istri Bosse jika nanti kakaknya itu meninggal ? sampai ahirnya ibunya bertanya kenapa ia sampai berpikiran begitu, inilah alasannya .
"Aku kan mendapatkan sepeda tua Bosse, peralatan main ski bekasnya, juga sepatu seluncur es yang dulu ia pakai waktu seumurku. Juga piama bekas dan sepatu olahraganya yang dulu" (hal 124)
Lalu ibunya berkata:
"Ya, tetapi ibu janji kau tak perlu mendapatkan bekas istrinya " (hal.124) Kemudian Lillebror bertanya "Boleh tidak aku ia menikah dengan ibu saja ?" Lalu Ibunya menjawab, ia telah menikah dengan ayah Lilllebror. Lalu Ia berpikir "Benar juga..Aku benar-benar tidak beruntung, kenapa sih Ayah dan aku jatuh cinta pada orang yang sama?" tanya Lillebror dengan kecewa. Hahahahah….
Sangat menyentuh dan masuk akal bukan ? benar-benar pikiran polos seorang anak. I love Astrid Lindgren.
Baiklah..cukup sekian, aku tidak akan menceritakan kisah-kisah serunya, karena gak bakalan heboh kalau aku ulas disini. Yang pasti, aku kembali menggeliat melengkapi koleksi buku-buku Astrid Lindgren, Roald Dahl, Jacquelin Wilson, Enid Bylton dll. Aku punya 2 begundal yg harus membaca kisah-kisah keren dari para penulis beken.
Betuuuul ?
-echy- Yang berjuang sangat keras untuk bisa menyelesaikan review ini. *malas nge-review .com
Posted at 11:40 pm by echyart
Permalink
Thursday, August 21, 2008
Marcy’s Problem at School

Judul Asli: Cat Ate My Jumpsuit
Judul Terjemahan: Marcy's Problem at School
Penulis: Paula Danziger
Penerjemah: Maria M.Lubis
Penyunting: Nadya
Penerbit: Matahati
Tebal: 178 hal
"Perkenalkan, namaku Marcy Lewis. Aku gemuk dan berjerawat. Canggung dan mudah gugup. Sekolahku mengerikan. Aku tahu teman-teman menertawakan di belakangku. Keadaan di rumah lebih buruk. Ayah menganggapku tidak berarti, dan seringkali bertengkar dengan ibu. Singkatnya: aku punya banyak masalah!"
Itulah kutipan sinopsis tentang buku ini, yang pertama terlintas dalam benakku adalah : ini buku abg dan Caca banget (putriku). Akhir-akhir ini aku memang banyak membaca buku-buku fantasi, cerita anak atau abg.
Semenjak Caca masuk SMP yang letaknya lumayan jauh dari rumah, aku berusaha keras untuk selalu membekalinya sebuah bacaan . Dan buku ini salah satunya. Yang lebih asyik lagi kami bisa mendiskusikannya baik di rumah maupun di mobil saat berangkat ke sekolah.
Ceritanya sederhana , persis seperti sinopsis di atas, Marcy mulai sedikit berubah saat seorang guru bahasa Inggris bernama Ms. Finney datang. Guru nyentrik yang kuyakini pasti akan disukai murid mana pun di dunia ini, dan berharap seandainya saja guru-guru sekarang seperti Ms. Finney, bukan karena nyentriknya tapi cara pendekatan pada murid-muridnya yang membuatku iri. Selama ini image guru selalu identik dengan galak, gak gaul dan kaku.
Tapi seperti biasa, orang-orang yang berani tampil beda selalu dimusuhi dan dianggap aneh. Kepala sekolah, guru –guru serta beberapa orang tua murid merasa terganggu dengan pola mengajar dan penampilan guru nyentrik ini, walau sebenarnya Ms. Finney membawa banyak sekali perubahan positif pada anak didiknya.
Maka konflik pun dimulai saat anak-anak berusaha memperjuangkan guru favorit mereka , sementara itu Marcy's yang berusia 13 tahun ini harus berjuang menghadapi problema masa pubernya dan tentu saja ayahnya yang suka berteriak.
Paula Danziger menulis lebih dari 25 buah buku dan telah mengunjungi lebih dari 15 negara. Ia meninggal pada 8 July 2004. Tapi seperti kata Pramoedya Ananta Toer " Menulis adalah bekerja untuk keabadian." Maka karya-karya Paula tentu akan terus hidup. Lebih banyak tentang Paula Danziger bisa dilihat disini.
Ini jenis buku yang bisa dilahap sekali duduk, ringan dan renyah, juga karena ukurannya yang kecil dan tipis hingga mudah dibawa-bawa, hanya saja covernya.. no comment deh !!
Posted at 02:48 pm by echyart
Permalink
Saturday, August 16, 2008
Judul Asli : New Moon Judul Indonesia: Dua Cinta Penulis: Stephenie Meyer Penerjemah: Monica Dwi Chresnayani Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama Cetakan: I, Juni 2008 Tebal: 600 hlm
Kisah diawali saat Bella berulang tahun yang ke 18 , Alih-alih merasa bahagia ia malah memikirkan dirinya yang kini berusia satu tahun lebih tua dari Edward. Ia bahkan sempat bermimpi melihat dirinya menjadia tua dan keriput sementara Edward tetap menawan diusianya yang selalu 17 tahun.
Edward dan adiknya Alice berencana membuat pesta kecil untuk Bella, walau Bella berusaha mati-matian menolak namun Alice tetap menjalankan rencananya. Maka Bella pun terpaksa datang dengan susana hati yang buruk. Sesampai disana ia disambut dengan hangat oleh keluarga Dr. Cullen . Ia disambut denga kado dan dekorasi layaknya sebuah pesta. Disaat sedang membuka kado kejutan bagi dirinya, jari Bella tergores hingga mengeluarkan darah.
Dalam keadaan normal peisrtiwa tersebut bukanlah suatu hal yang luar biasa , tapi kejadian itu terjadi persis disaat Bella sedang berada di rumah sekawanan Vampir yang jelas-jelas peminum darah. Hampir seluruh anggota Cullen berusaha keras menahan diri kecuali Jasper yang tak kuasa bertahan dan akhirnya menyerang Bella, tepat disaat itulah Edward melindungi Bella dari serangan Jasper. Semua menjadi panik dan pesta pun bubar, Dr Cullen lah yang tetap tenang dan akhirnya merawat luka Bella.
Peristiwa tersebut sangat melukai hati Edward, ia yang selama ini mati-matian melindungi Bella menyadari bahwa ia telah menarik Bella kedalam lingkungan keluarganya yang justru tidak aman. Ia tidak ingin Bella menjadi terkutuk seperti dirinya, ia ingin mempertahankan Bella tetap menjadi manusia, walupun sebaliknya Bella sangat ingin menjadi Vampire dan masuk dalam keluarga Cullen.
Tak lama kemudian Edward mengabarkan bahwa ia dan keluarganya akan pindah ke LA, Edward pergi begitu saja. Sebuah episode kelam dalam hidup Bella pun dimulai. Ia menjalani hidup tak lebih dari sekedar rutinitas. Sekolah, mengerjakan pr, bekerja dan memasak untuk Charlie—ayahnya. Bella mulai dijauhi teman-temannya, ia berubah menjadi apatis, tidak bicara sebelum ditanya. Bella merasa sangat kehilangan, kepergian Edward meninggalkan lubang besar di dadanya. Ayahnya sangat prihatin akan penderitaan anaknya. Bahkan sempat menawarinya untuk kembali bergabung bersama ibunya. Namun Bella menolak.
Sampai pada suatu ketika Bella mulai bangun dari mimpi panjangnya. Ia mulai akrab dengan Jacob-Jake-Black temannya yang tinggal di La Push. Mereka menghabiskan hari dengan memperbaiki motor di di rumah Jake, belajar mengendarai motor dan mengerjakan pr bersama.
Disaat hati Bella mula mencair , Jake pun menghilang. Lukanya yang belum sembuh kembali terkoyak. Walau Jake jelas-jelas menunjukkan kesukaan pada Bella, ia menganggap Jake tak lebih dari seorang teman, namun kepergian Jake tetap membuatnya kalut. Sampai akhirnya ia mengetahui rahasia Jake. Bella kembali berpikir bahwa ia memang magnet yang selalu memikat bahaya. Lalu muncullah Victoria, kekasih James yang berusaha balas dendan atas kematian kekasihnya. Bella kembali merasa terancam.
Buku kedua dari seri Twilight Saga ini lebih tebal dari buku pertama:Twilight. Namun dari segi alur dan dan penuturan lebih kurang sama saja. Hanya saja ditengah-tengah kita lebih banyak disuguhi kisah Bella dan Jake serta latar belakang keluarga Jake yang ternyata bermusuhan dengan kaum vampire. O,ya satu lagi, buku kedua ini diterjemahkan oleh penerjemah yang berbeda dengan buku pertama. Kalimat lebih terasa mengalir jika dibandingkan dengan buku pertama.
Sekali lagi ini novel remaja. Cinta remaja yang heebohhh, jadi siap-siap saja mendapatkan banyak keragu-raguan, dialog-dialog yang mengungkapkan perasaan cinta, sayang dan sejenisnya. Jangan berharap ada konflik besar dan kengerian yang mencekam. Mungkin akan lebih pas lagi bila jika anda sedang patah hati , jadi bisa mendalami perasaan Bella. Baiklah..kita lihat perkembangan selanjutnya di buku ketiga Eclipse.
Posted at 04:11 pm by echyart
Permalink
Judul Buku: Twilight Penulis: Stephenie Meyer
Penerjemah: Lily Devita Sari Editor: Rosi L. Simamora Tebal: 520 hlm; 13,5 X 20 cm Terbit: Cetakan 1, Maret 2008 Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Ini kisah cinta remaja belasan tahun. Sepasang kekasih yang dimabuk asmara. Tergila- saling dan saling memuja. Kedengarannya sangat biasa bukan ? Tapi eittss..tunggu dulu !!
Twilight ini adalah judul pertama dari serial Twilight Saga. Disebut-sebut sebagai novel terheboh setelah Harry Potter versi majalah Entertainment Weekly. Dalam novel bergendre remaja ini si cowok bukan remaja biasa, melainkan seorang vampire. Jadi tentu saja sangat menjual dan membuat para remaja penasaran. (Termasuk emak-emak seperti diriku .ha..ha..)Terbit pada Oktober 2005, dan langsung masuk daftar New York Times Bestseller untuk kategori Young Adult hanya dalam jangka waktu satu bulan saja.
Edward Cullen adalah cowok 17 tahun yang sempurna : tampan, tubuh atletis, kulit dan rambut memukau. "Kulit nya putih….tampak kemilau seolah-olah ribuan berlian mungil tertanam di bawah permukaan kulitnya (hal.275) tapi sayang si keren yang sebelumnya tidak tertarik dengan cewek ini seorang vampire dan tak seorangpun mengetahui rahasianya. Edward tidak pernah gaul dengan teman-temannya di SMA, apalagi memiliki kekasih.
Lalu datanglah murid baru bernama Isabella Swan, 17 tahun. Putri dari Charlie Swan, kepala polisi di Forks. Bella yang kurang percaya diri ini ternyata cukup menarik perhatian teman-temannya. Banyak hal dalam dirinya yang membuat orang lain penasaran. Ia sendiri tergolong rapuh dan ceroboh, kurang bisa mengontrol keseimbangan sehingga gampang terjatuh atau tersandung.
Edward yang cuek dan dingin lalu bertemu dengan Bella yang tidak percaya diri, mereka duduk bersebelahan pada sebuah mata pelajaran. Ternyata memiliki rasa ketertarikan satu sama lain, ada semacam magnet yang yang mendekatkan mereka. Bella terpesona dengan ketampanan Edward, sedangkan Edward tergiur aroma tubuh Bella.
Pada awalnya Bella merasa enggan pindah ke Forks. Sebelumnya Ia tinggal di Phoenix bersama ibunya Renée, namun setelah ibunya menikah lagi ia memutuskan tinggal bersama ayahnya di Forks: kota yang selalu diguyur hujan. Namun sejak melihat Edward Cullen dan saudara-saudara tirinya yang misterius, dirinya mulai curiga dan mencari informasi mengenai keluarga Cullen. Bella mulai menikmati kehidupannya di Forks.
Selanjutnya bisa ditebak, Bella dan Edward mulai berpacaran. Tapi bisa dibayangkan betapa janggalnya hubungan asmara gadis belasan tahun dengan seorang vampire yang lahir pada tahun 1901 di Chicago, "meninggal" di usia 17 di sebuah rumah sakit karena flu Spanyol, lalu diadopsi oleh vampire bernama dr. Carlisle Cullen. Dan Edward akan selamanya berumur 17 tahun. (lihat hal.303)
Bella akhirnya mengetahui bahwa Edward seorang vampire , tapi ia terlanjur jatuh cinta dan memujanya, ia tak dapat hidup tanpanya. Begitu pula dengan Edward, ini cinta pertamanya setelah berumur seabad lebih, ia tergila-gila pada Bella dan berusaha sekuat tenaga meredam nafsu alamiahnya sebagai seorang vampire, dan mati-matian melindungi bahkan mengikuti Bella tanpa sepengetahuannya.
Cinta terlarang ini mulai membawa dampak bagi mereka berdua, kenyataan bahwa mereka memiliki alam yang berbeda muncul satu demi satu. Sebagaimana layaknya vampire, Edward berserta keluarganya yang lain : Carlisle Cullen, Esme, Emmet, Alice, dan si kembar Rosalie dan Jasper Hale adalah peminum darah. Walau mereka melakukan "diet" darah manusia dan menggantinya dengan berburu dan meminum darah binatang. Namun begitu kehadiran Bella tetap menjadi godaan bagi mereka dan tentu saja bagi Edward yang selalu ingin berdekatan dengan Bella.
Maka disinilah konflik yang sebenarnya terjadi. Bella dan Edward dihadapkan dengan berbagai masalah yang membuat mereka harus berpikir untuk meneruskan cinta mereka. Walau Edward pernah berusaha menghindar dari Bella tapi ia tak bisa memungkiri pesona Bella begitu kuat dan Ia harus berjuang keras agar dirinya dan kaumnya tidak sampai membunuh Bella.
Dan akhirnya apa yang dikhawatirkan Edward pun terjadi . Disaat Edward dan saudaranya bermain di sebuah lapangan datanglah Laurent, James, dan Victoria. tiga orang vampire dari keluarga lain yang tentu saja bukan jenis vampire "diet" darah manusia seperti keluarga Cullen. Mereka benar-benar vampire pemburu yang haus darah manusia. Dan James mengincar Bella.
Tak ayal lagi disinilah keteguhan hati mereka diuji, Bella dan Edward sama-sama mengetahui konsekwensi dari cinta terlarang mereka namun kuatnya rasa ketertarikan menggelapkan mata dan hati mereka. Edward harus berjuang keras mempertahankan kekasihnya agar tetap menjadi manusia.
Pada dasarnya buku ini biasa saja, maksudku tidak ada ketegangan yang benar-benar heboh, atau plot yang berbelit-belit dan membuat kita penasaran. Mengalir begitu saja. Khas cinta remaja yang menggebu-gebu yang terkadang emosi dan labil. Tapi tak bisa dipungkiri ini bukan kisah cinta biasa, cinta terlarang yang mengasyikkan. Ide percintaan manusia dan Vampire inilah yang menurutku jadi daya tarik novel ini.
Secara keseluruhan ada beberapa hal yang sangat menggangguku :
Bella terkesan selalu mengulang-ulang penggambarannya tentang Edward: bagaimana wajahnya, warna kulitnya, senyumnya dan lain-lain, terlalu berlebihan dan cendrung membosankan.
Lalu aku merasa karakter Edward terlalu sempurna mengingat ia adalah seorang vampire. Dan yang terahir, karena ini adalah cerita tentang vampire aku sedikit kecewa karena tak ada satupun kisah yang bisa membuatku katakanlah sedikit merinding atau ketegangan yang menggigit, boleh dikatakan tanpa klimaks. Ini benar-benar kisah romance. Jika seandainya unsur-unsur tadi lebih di-explore lagi mungkin novel ini akan lebih maknyuss…
Stephenie Meyer adalah istri dan ibu dari tiga orang anak. Ia kelahiran Hartford, Connecticut pada 24 Desember 1973. Dari websitenya Ia mengatakan mendapatkan ide awal kisah ini dari sebuah mimpi yang lebih kurang ia gambarkan seperti pada bab 13. (Wow..mimpi yang menghasilkan jutaan copy. Keren !!)
Twilight telah diangkat ke layar lebar yang rencananya akan dirilis Desember 2008. Aku sendiri sempat mengintip Thriller-nya, mengingat karakter Edward yang begitu sempurna aku yakin akan banyak pembaca yang akan kecewa..Mari kita tunggu saja penayangannya di Indonesia .
Di Indonesia kelanjutan buku kedua dari Twilight Saga ini juga sudah Diterbitkan oleh pihak Gramedia. Berjudul New Moon dan diterjemahkan menjadi Dua Cinta. Buku ketiga dan keempatnya adalah Eclipse (2007), dan Breaking Down (2008).
Posted at 12:01 pm by echyart
Permalink
Wednesday, August 13, 2008
Judul Terjemahan : Makan Doa Cinta
Penerjemah : Silamurti nugroho
Editor : Michael A.R.T
Penerbit: Abdi TAndur
Tebal : 402 hal

Karier yang mapan, pasangan hidup, rumah bagus dan mobil mewah. Itulah beberapa item yang selalu menjadi parameter untuk mendapatkan kebahagiaan. Namun dalam buku yang membuatku penasaran setelah melihat (lagi-lagi) di acara tante Oprah. Kesemua teori tersebut terbantahkan.
Buku yang berjudul Eat Pray Love ini adalah sebuah memoir yang ditulis oleh Elizabet Gilbert. Seorang wanita karir berkebangsaan Amerika di usia awal tiga puluhan , punya suami, rumah besar dan karir yang bagus. Yang jadi masalah adalah ia tidak ingin memiliki anak, baginya memiliki anak ibarat" Mempunyai tato di mukamu. Sebelum kamu memilikinya kamu harus benar-benar yakin itu yang kamu kehendaki." (hal.11)
Dalam kebimbangannya Lizz mencoba untuk meyakinkan diri bahwa hal tersebut adalah hal yang wajar walau lingkungan mengatakan kebalikannya, Ia menyaksikan temannya berusaha mati- matian untuk bisa hamil. Lizz menyadari ada yang salah dengan dirinya, suaminya pun mulai kehilangan kesabaran.
"Selalu ada dua orang dalam perkawinan, dua pendapat, dua keputusan yang saling bertentangan, keinginan dan keterbatasan" (hal.13)
Lizz tidak mau terikat dalam perkawinan lagi. Ia depresi, menangis setiap malam di kamar mandi dan berusaha mencari Tuhan, mencari jawaban apa yang sebenarnya ia inginkan. Ia ingin bercerai, namun untuk mencapai kesepakatan pun ia mengalami pergulatan panjang dan berliku..Suaminya David tak semudah itu melepasnya. Padahal yang ia inginkan adalah "Diam-diam pergi melalui pintu belakang, tanpa menyebabkan keributan."
Lizz mengabil tindakan yang cukup radikal, ia memutuskan untuk berhenti bekerja dan memulai segalanya dari awal. Ia bersenang-senang di Italia, belajar bahasa, makan sepuasnya dan mendapatkan kekasih baru, berat badannya naik dengan drastis.
Setelah berada selama 4 bulan di Italia ia menuju India, Lizz yang telah cukup lama mendalami Yoga belajar bermeditasi dan mencari Tuhan di sebuah asrama yang sangat sederhana di pedalaman India.
Dan terahir Ia kembali ke Bali: sesuai dengan ramalan seorang dukun di Bali yang pernah mengatakan bahwa ia akan kembali ke Bali dan akan mendapatkan kebahagiaan di pulau dewata tersebut.
Seperti biasa, aku selalu menyukai buku-buku yang memberi pelajaran tentang makna hidup, sesuatu yang layak untuk dipertimbangkan. Salah satu kalimat yang diucapkan Lizz dalam acara Oprah adalah :
"Berhentilah mengeluh dan dengarkan kata hatimu, buatlah perubahan, tanyakan apa yang yang sebenarnya engkau inginkan lalu bergeraklah, lakukan perubahan."
Seperti kata Oprah : "Buku ini benar-benar untuk para wanita."
Setelah menyelesaikan kuliahnya di awal tahun 1990 Elizabeth menghabiskan waktunya berkeliling dunia, dan menulis cerita pendek. Buku pertamanya adalah kumpulan cerpen yang berjudul Pilgrim, diikuti dengan Stern Men dan The Last American Man. Sedangkan Eat Pray Love adalah debut pertama kesuksesannya menembus pasaran dunia, telah diterjemahkan ke dalam lima puluh bahasa dan dicetak lebih dari 5 juta copy.
The New York Times menyebutnya sebagai salah satu buku yang paling banyak menarik perhatian. Sementara Entertanment Weekly menganugerahkannya sebagai salah satu dari 10 buku nonfiksi terbaik 2006. Elizabeth sendiri masuk dalam daftar nama 100 tokoh paling mempengaruhi di dunia versi Time Magazine. Saudara perempuannya juga seorang novelist bernama Catherine Murdock .
Posted at 11:11 pm by echyart
Permalink
Sunday, July 27, 2008
Judul Terjemahan : Tulang-Tulang Cantik
Penulis : Alice Sebold
Penerjemah : Gita Yuliani K
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Cetakan : I, April 2008
Tebal : 440 halaman

Sebuah endorsement dari The New York Times membuatku tertarik pada novel dengan cover yang suram ini. Judulnya sempat mengingatkanku pada the Bone collector-nya Jeffery Deaver, dan inilah yang ditulis oleh The New York Times :
"Renungan mendalam tentang berbagai cara bagaimana kesedihan dan kehilangan yang menyakitkan bisa ditebus dengan cinta dan penerimaaan "
Siapakah diantara kita yang tidak pernah merasa sedih dan kehilangan seseorang ?
Aku ini sejenis pembaca yang melahap hampir seluruh gendre (kecuali horror tentunya) namun jika aku disusuh memilih mana yang paling kusukai aku akan memilih drama, bukan romance ataupun fantasi, kenapa ? karena menurutku kisah drama adalah kisah yang paling "masuk akal" dan mendekati dunia nyata, banyak pelajaran dan hikmah yang bisa dipetik sesudahnya.
Dan setelah selesai membaca The Lovely Bones dengan berat hati aku mengatakan aku suka buku ini, walau terkesan suram, banyak hal yang membuatku akhirnya memutuskan aku harus memberinya 5 bintang. Buku ini membuat jantungku berdegub kencang, kemudian menangis, menarik nafas panjang dan kembali tersenyum. Walaupun ada beberapa kesalahan cetak dan endingnya tidak seperti harapanku, aku suka karya Alice Sebold ini.Lebih banyak tentang Sebold bisa diliat disini: <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Alice_Seboldhttp://en.wikipedia.org/wiki/Alice_Sebold">http://en.wikipedia.org/wiki/Alice_Sebold</a>
Paragraf awal dibuka dengan "Namaku Salmon, seperti nama ikan, dan nama depanku Susie. Umurku empat belas saat dibunuh pada tanggal 6 Desember 1973." Pada bab pertama pembaca telah disuguhkan siapa pembunuh dan bagaimana Susie dibunuh. Ia dibunuh diladang jagung hanya beberapa meter dari rumahnya.oleh tetangganya sendiri, persis disaat ibunya Abigail sedang menyipakan makan malam dan ayahnya Jack Slmon sedang memasukkan mobil ke garasi.
Kisah ini ini dinarasikan oleh Susie, tentu saja, karena Ia adalah roh penasaran yang gentayangan, Ia bisa kemana saja masuk dan membaca semua pikiran dan perasaaan keluarga dan teman setelah ia meninggalkan mereka. Alurnya ceritanya sendiri dibuat maju mundur kemasa lampau dan masa yang akan datang, sehingga pembaca terkadang sudah diberi sedikit clue apa yang terjadi kemudian.
Pembunuh Susie adalah seorang lelaki yang telah menyiapkan rencana pembunuhannya dengan sempurna, Ia hanya menyisakan sedikit barang bukti dan sepotong lengan yang tak mampu mengungkapkan siapa pembunuhnya. Pihak polisi tidak mampu menemukan dimana jasad Susie.
Namun sebagaimana endorsement awal, kisah ini lebih menitik beratkan bagaimana pihak keluarga menjadi hancur setelah kepergian Susie yang diselingi dengan sedikit informasi disana-sini tentang sang pembunuh yang membuat pembaca terus penasaran.
Alice Sebold dengan piawai mengungapkan perasaan setiap anggota keluarga. Mr. Salmon yang kemudian dianggap kurang waras karena mencurigai tetangganya tanpa bukti yang kuat, Ibunya Mrs. Abigail juga mengalami krisis kepercayaan terhadap suaminya dan mulai berpaling . Lalu adiknya Lindsey yang harus menghadapi tatapan aneh dari setiap orang, begitu mengetahui nama belakangnya dan menyadari bahwa dirinya adalah adik dari gadis yang hilang: yang darahnya bertebaran di ladang jagung, dan hanya lengannya saja yang ditemukan. Begitu pula dengan si bungsu yang masih balita : Buckley, ia terus menanyakan dimana kakaknya.
Susie dari alam baka melihat kehancuran keluarga dan sahabatnya, Ia mengetahui betapa Ayah, Ibu berserta kedua Adiknya sangat kehilangan dirinya. Betapa teman dan cowok yang menyukainya merasakan dampak dari kepergiannya yang tragis.
Waktu terus bergulir disaat Susie harus menerima kenyataan bahwa orang-orang terkasihnya harus meneruskan hidup mereka.
Posted at 06:14 pm by echyart
Permalink
|
|
|