|
Penerjemah: Lanny Murtihardjana
Penerbit: GPU, Oktober 2008 Tebal: 272 halaman "SEPERTI INILAH RASANYA KESEPIAN: Seakan-akan semua orang menatapmu…" Begitulah kalimat pembuka kisah berlatar belakang peristiwa Pearl Harbor ini. Bercerita tentang kisah hidup seorang gadis keturunan Jepang berusia 12 tahun bernama Sumiko. Ia dibesarkan disebuah perkebunan bunga di California. Suatu hari Sumiko pulang sekolah dengan gembira karena menerima undangan pesta teman sekelasnya. Bagi gadis lain seusianya, menerima undangan ulang tahun bukanlah hal yang luar biasa, tapi tidak bagi Sumiko, Ia yang terbiasa diejek dan dipandang penuh curiga karena menjadi satu-satunya gadis Jepang di kelasnya, menganggap hal ini peristiwa luar biasa. Ia mengabarkan berita tersebut pada seisi rumah. Semenjak kematian orang tuanya, Sumiko dan adiknya Tak-Tak (6 th) tinggal bersama kakeknya "Jiichan", paman, bibi dan kedua sepupunya--Ichiro dan Bul. Mereka mengurus perkebunan bunga liar—kusabana. Untuk menghadiri undangan pesta tersebut Sumiko mempersiapkan segalanya, ia memikirkan gaun yang akan ia kenakan, kado yang akan dibawa, dan membayangkan suasana pesta yang akan dihadirinya, Ia pun diantar paman dan kakeknya. Sumiko tak menyangka luapan kegembiraannya akan berahir dengan kekecewaan. lalu kejadian di pesta membuat Sumiko merasa malu dan terhina, hingga menurutnya hidupnya takkan sama lagi. Ia merasa dirinya adalah Sumiko yang terhina (h.48) Tak lama berselang tersebarlah kabar Jepang telah mengebom Hawaii, perang telah meletus, kehidupan "damai" mereka buyar sudah. Orang-orang Amerika mencurigai para Nikkei—semua keturunan Jepang, termasuk mereka yang lahir di Amerika Serikat seperti Sumiko. Mereka dipaksa menjual rumah serta semua hartanya, kemudian mereka ditampung di kamp tahanan sementara. Dari kamp tahanan tersebut, mereka dipindahkan ke kamp tahanan lainnya di salah satu padang gurun terpanas di Amerika. Panasnya cuaca, lingkungan kamp yang membosankan membuat Sumiko merindukan kebun bunganya, perasaan jemu benar-benar membuatnya takut. Selama dalam kamp konsentrasi, banyak konflik yang terjadi, sepupunya harus ikut wajib militer, bibinya ingin bekerja diluar kamp, Paman dan kakeknya menderita kedinginan karena ditahan kamp yang berbeda.Sumiko berjuang keras melawan rasa jenuhnya dengan "menciptakan" kebun bunganya di gurun yang tandus bersama Mr. Moto, Sementara terus Tak-Tak terus menghawatirkan apakah mereka akan mati ditembak. Sampai dengan Sumoko berteman dengan seorang Indian bernama Frank. Cynthia Kadohata mengungkapkan dampak pengeboman Pearl Harbor bagi keluarga Sumoko (baca: warga Jepang di Amerika). Kisah yang indah tentang kekuatan saling mengisi dalam sebuah keluarga, aku suka bagaimana Ichiro dan Bull melindungi sepupunya Sumoko dan Tak-Tak, sehingga merasa mereka bukanlah yatim piatu dan memilki keluarga yang sebenarnya. Lalu tindakan Sumoko menyumbangkan uang 6 dollarnya untuk dikirim pada Jiichan dan pamannya. Sumoko juga menghibur Bull yang akan menjalani wajib militer dengan cara berjanji akan mengiriminya surat dan majalah, sangat menyentuh. -echy- yang berusaha mencari karya Kadohata yang lain. |
| Leave a Comment: |