Entry: Kabul Beauty School Friday, August 07, 2009



Penulis: Deborah Rodriguez                                                                                    Penerjemah: Gunardi dan Aan
Penyunting: Desy
Penerbit: PT. Bentang Pustaka, Maret 2009, 430 Halaman

Buku ini kubeli tanpa membaca synopsis-nya terlebih dahulu,  biasanya, aku selalu membaca synopsis buku yang akan kubeli, bahkan terkadang baca dulu review-nya di internet. Namun kali ini judul dan covernya, membuatku berpikir pastilah berhubungan dengan kerjaan, maka buku ini pun lolos masuk kantong belanjaan.

Tidak jauh meleset dari dugaan, Kabul Beauty School adalah sebuah memoir seorang peņata kecantikan bernama Deborah (Debbie) Rodriguez, seorang wanita  Amerika yang setelah mengalami kegagalan dalam perkawinannya  memutuskan untuk bergabung dalam sebuah misi kemanusiaan di Afganistan.

Kunjungan perdana  Debbie ke Afganistan membuat matanya terbuka lebar melihat carut-marutnya negeri itu akibat perang, alih-alih membantu teman-temannya menangani korban perang, Debbie malah ditugaskan untuk mengajarkan ilmu kecantikan yang Ia miliki pada wanita Afganistan. Singkat cerita Debbie kembali ke Amerika dan mulai mencari dukungan dana dan berbagai kebutuhan kecantikan yang akan ia perlukan untuk membuka sekolah kecantikan di Kabul.

Ini buku  kesekian  yang  bercerita tentang Afganistan,  kembali bercerita tentang malangnya kehidupan wanita disana.  Wanita benar-benar diremehkan,  sama sekali tidak memiliki hak apa-apa, KDRT sangat lumrah terjadi , wanita hanya menunggu untuk dinikahkan berdasarkan pilihan ayahnya, lalu punya anak dan tunduk pada suami, tunduk dan takut pada suami dalam arti yang sebenarnya.

Hal itulah yang membuat Debbie bertekad untuk mengajak  para wanita untuk belajar mandiri , mempunyai keahlian agar mereka  lebih dihargai para suami, sehingga mereka tidak diperlakukan semena-mena dan tidak dipandang sebelah mata. Debbie membuktikan bahwa kaum  perempuan juga bisa menghasilkan   uang, bahkan jauh lebih besar dari penghasilan suami mereka.

Tentu saja banyak hal yang dialami Debbie untuk mewujudkan keinginannya itu.  Dalam masa pendudukan Taliban, semua peralatan kecantikan dihancurkan, bahkan sepotong cermin sekalipun. Lalu tidak semua suami mengizinkan istrinya keluar rumah untuk mengikuti kursus, tidak sedikit yang mengalami penyiksaan akibat terlambat pulang dari jam yang diizinkan suami mereka.

Memoir ini ditulis dengan ringan, penuh humor, juga terkadang  memilukan. Banyak bercerita tentang berbagai teknik tentang make-up, hair-do, bahkan adat istiadat dan  tata rias pengantin Afganistan, yang menurutnya lebih mirip ratu waria, alih-alih membuat calon pengantin menjadi cantik dan elegan:D

Yang menjadi ganjalan adalah menurutku Debbie terlalu bertele-tele dalam penulisannya, bahkan agak sedikit  ironis jika menyinggung kehidupan pribadinya , ia gemar pesta, minum dan perokok.  Debbie   berniat mulia ingin menolong wanita-wanita malang di Kabul, namun Ia sendiri tidak belajar dari pengalaman akan kegagalannya berumah tangga, Ia terburu-buru menikah lagi dengan seorang lelaki Taliban karena dijodohkan oleh teman-temannya di Kabul, Suami keduanya lelaki yang telah memiliki anak dan istri di negara lain, sementara i itu ia sendiri meninggalkan anak-anaknya bersama ibunya  di Amerika.

Deborah Rodriguez telah menjadi penata  rambut sejak tahun 1979. Sempat menjadi pegawai pemeriksa di kota kelahirannya, Holland, Michigan. Saat ini Ia memimpin sekolah Kecantikan Kabul, akademi kecantikan modern pertama di Kabul. Kisah ini diangkat kelayar lebar oleh Columbia Pictures dan akan segera beredar.

 

   1 comments

najlazea
August 12, 2009   11:22 AM PDT
 
sukaaa deh sama buku ini, layak jd one of the best books in 2009...

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments